Senin, 09 September 2019

Rindu Kampung


By. Rieny

Tidak satu jalan ke roma, banyak jalan yang bisa ditapaki dan ditempuh untuk menuju kampung halaman. Mengapa engkau masih terpaku berdiam diri?


Kubaca lagi pesan WA Emak kemarin.

Emak :
[Pulanglah Udin..., lebaran Haji kali ini usahakanlah pulang dua atau tiga hari...]

[Iya Mak, Udin juga pengen pulang, Udin kangen sama Emak dan Bapak, tapi keadaannya tidak mengizinkan buat udin pulang sekarang.]

[Udin tidak bisa ninggalin kerjaan Mak, liburanya hanya hari Minggu. Hari Senin mesti masuk lagi] balasku.

Emak:
[Baiklah nak...kalau gitu carilah waktu lain untuk bisa jumpa Mak dan Bapak di kampung]

[Emak dan Bapak sangat rindu padamu]

[Sudah lima tahun kamu tidak pulang]

[Iya mak, udin juga rindu...nanti Udin usahakan untuk menemui Emak dan Bapak]

Yah, sudah lebih kurang lima tahun aku tidak menginjakkan kaki di kampung halaman. Sejak aku menikah dan menetap di kota kelahiran istriku.

Diriku sudah tergadai ke tanah Jawa, dan istriku tidak mengizinkan aku untuk pulang kampung.

"Tidak Bang...abang jangan pulang, kita lebaran di sini aj." ujar Mimin istriku saat kusampaikan niatku untuk pulang.

"Sebentar aj Min, ngga sampai seminggu Abang udah balik lagi ke rumah."

"Kamu ikut Abang ya nengok Emak Dan Bapak." bujukku

"Aku ngga mau ikut ke kampungmu." jawab Mimin dengan suara yang mulai meninggi.

"Kalau gitu, Abang pulang sendiri aj." jawabku datar

"Ngga bang... Kamu jangan pergiiii....!"

"Kenapa ngga boleh?"

"Ngga boleeeeh...!aku Takut Bang, nanti kamu dijodohin lagi di kampung."

"Hehhhh kamu, aneh-aneh aj pemikirannya."

Begitulah, izin dari Mimin tak berhasil aku kantongi. Aku batal lagi buat pulang.

Kampung halaman terus terbayang. Padi nan menguning serta alamnya nan asri terus memanggil-manggil untuk pulang.

Jika kedaannya yang tidak memungkinkan apa yang mesti dilakukan? mau guling-guling di lapangan basket atau jungkir balik di kolam ikan? malu dong sama ikan yang lagi berendam.

Aku janji, aku akan sediakan waktu untuk menengok emak dan bapak dan melepaskan kerinduanku yang memuncak pada kampung halaman.

Akan kusemblih semua duri-duri yang menghalangi jalanku, kuhancurkan bongkahan batu hitam yang menghadang. Aku kikis habis sampah-sampah hati yang selama ini mengendap, agar cahayanya memuluskankan jalanku untuk mengobati kerinduan ini.

Selamat Hari Raya Idul Adha Emak...
Mudah-mudahan lebaran nanti Udin bisa menemui Emak dan Bapak di kampung.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Merindukan Gang Iblis

By. Rien Sudah sangat lama kami meninggalkan tempat itu. Namun, seakan ada suara yang terus memanggil. Sebenarnya ada apa di gang iblis? Gan...