Jumat, 27 September 2019

Belaian Kasih [Part. 8]

By. Rieny


“Hidup ini kaya akan rasa... Dan kita harus berusaha menikmatinya, meskipun itu pedas atau pahit. Kita harus berani mencoba, karena kekayaan rasa itulah yang memberi warna dalam hidup!”
― Maisie Junardy, Man's Defender


Baru saja semalam Tante Irma marah-marah padaku dan mengurungku semalamaan di luar berteman dengan angin malam dan guyuran hujan yang lebat. Akan tetapi kini tubuh catiknya terbaring lemah tidak sadarkan diri setelah jatuh dari kamar mandi tadi pagi.


Tante Irma masih belum sadar, terbaring tak berdaya dengan infus dan oksigen terpasang di tubuhnya. Dengan rasa sedih yang amat dalam aku dengan setia menemani tante sambil terus berdo’a untuk kesembuhan tante Irma.


Kring…..

Kring…..

Kring…...


Ponselku bordering. Ternyata ada panggilan masuk dari mba Jihan.


[Assalamualaikum Kasih]

[Waalaikum salam Mba Jihan]

[Kasih, bagaimana keadaan mama?]

[Mama udah sadar belum?]

[Maafkan aku Kasih, aku terjebak macet….bentar lagi aku sampai di sana]

[Tante Irma masih belum sadar mba, sekarang masih di ruangan ICU]

[ohh…..]

Terdengar isak tangis mba Jihan dari seberang sana.

[Mba Jihan tenang Mba, Dokter lagi berusaha menyelamatkan mamanya Mba,,,,]

[Kita berdo’a ya Mba, mudah-mudahan tante Irma cepat sadar]

[Baik Kasih…..]

[Papa dan Soni ada di sana Kasih?]

[Om Irwan dan mas Soni tadi ada di sini Mba, tetapi sekarang mereka sudah pergi lagi]

[Hahhhh…..kemana mereka?]

[Om Irwan katanya mau ketemu sama rekan bisnisnya Mba, dan mas Sonia da acara sama teman-temannya]

[oouh…]


Aku tak habis pikir kenapa Om Irwan dan Soni begitu tega meninggalkan tante Irma yang sedang meregang nyawa di rumah sakit. Lebih pentingkan acara mereka disbanding nyawa tante Irma?


Diujung telpon masih kedengaran isak tangis mba Jihan.


[Kasih kamu tetap di sana yaa….tolong jaga mama..!]

[Baik Mba Jihan, tentu….aku akan jaga Tante Irma]

[Makasih ya Kasih…]

[Iya Mba, makasih kembali…]

[Assalamualaikum]

[Waalaikum Salam Mba]


Selama ini hanya Mba Jihan yang peduli pada Tante Irma. Om Irwan selalu sibuk dengan urusan bisnisnya. Soni selalu pergi dengan teman-teman geng motornya.


“Kamu saja yang temani mama, aku ada acara sama teman-temanku.” Kata Soni siang tadi saat aku memintanya untuk tetap di rumah sakit menemani mamanya.


“Mas Soni….! Tante Irma belum sadar, tunda dulu acaramu dengan teman-temanmu.” Aku berusaha membujuk Soni.


“Udah ah…minggir….aku mau pergi, temanku sudah menunggu.” Katanya lagi sambil melepaskan tanganku yang berusaha menahannya.

“Mas Soni....teganya kamu meninggalkan mamamu yang lagi sekarat, kemana hatimu?” ujarku dengan sedikit berteriak.


“Kamu saja yang jagaian mamaku, ok..? Dahhhh……”katanya sambil berlalu.


Aku hanya bisa mngurut dada melihat sikap Soni yang tidak peduli terhadap mamanya yang lagi terbaring berjuang melawan maut.


Cinta tidak hanya serpihan ludah yang menempias dari lisan, tetapi adalah tentang kepedulian dan perhatian yang tertumpahkan tanpa henti sepanjang masa.[Edi Akhiles] 







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Merindukan Gang Iblis

By. Rien Sudah sangat lama kami meninggalkan tempat itu. Namun, seakan ada suara yang terus memanggil. Sebenarnya ada apa di gang iblis? Gan...