Jumat, 12 Juli 2019

Rindu yang terabaikan


By : Rieny


Waktu kuletakkan sepotong rindu di depanmu, engkau mengelak dan mengantinya dengan empedu. Apakah aku mesti tergugu?

**********
Prang…

Terdengar suara piring pecah dari ruang makan, hingga mengagetkan aku yang sedang menggendong bayi cantikku Raisya. Dari pagi Raisya rewel terus karena tubuhnya agak panas.

“Istri macam apa kamu…! masak saja tidak becus….asin begini, puiih…kedengaran suara mas Hendra memaki sambil melemparkan piring berisi nasi yang baru saja sesendok di makannya. Setelah piring berderai dan makanan berhamburan dengan sinisnya dia ludahi makanan itu.

Kutidurkan Raisya di tempat tidur dan bergegas ke ruang makan. Mas Hendra memadangku dengan penuh amarah. Matanya memerah dan melotot ke arahku seperti mau melahapku bulat-bulat.

“Ada apa mas? Kenapa makanannya kamu lempar?”tanyaku sambil menahan hati yang mulai perih dan jantung bergemuruh.

“Masakan asin begini kamu suguhkan untukku, kamu benar-benar istri yang tidak bergunaaaa….!” teriak mas Hendra sambil berlalu meninggalkanku sendri yang terpaku di sudut ruang makan.

Mas Hendra baru saja pulang setelah seminggu meninggalkan rumah. Dia memang suka pergi sesukanya. Pergi begitu saja meninggalkanku dan Raisya tanpa beban.

Perjodohan itu membuatnya sangat membenciku. Sampai saat ini dia belum bisa menerima keberadaanku sebagai istrinya. Apa yang aku lakukan selalu salah di matanya.

“Aku tidak mencintaimu, jadi jangan harap aku akan memperlakukanmu dengan baik.”katanya datar saat aku tanya kenapa sikapnya seperti itu padaku.

“Tapi, aku mencintaimu Mas,” jawabku polos dengan sedikit hati-hati.

“Persetan dengan cintamu, aku tidak butuh. Carilah pria lain yang bisa menampungnya.“ jawabnya tanpa perasaan. Tidak mempedulikan rasa cinta dan rinduku yang telah aku ukir untuknya.

“Kamu boleh tidak mencintaiku mas, tapi bagaimana dengan Raisya? Kenapa kamu juga membencinya? Dia anak kita mas..darah dagingmu…!” tidak bisa kutahan air mata ini. bulirnnya jatuh menggenang di kedua pipiku.


“Itu anakmu, bukan anakku. Urus saja sendiri, jangan libatkan aku untuk merawatnya. Dan jangan kamu ajari dia untuk memanggilku bapak.”


Mas Hendra memang tidak sayang pada Raisya. Sejak lahir hingg saat ini Raisya sudah berusia empat bulan, belum pernah dia menggendong putrinya itu. Hatinya sudah buta, diselimuti oleh api kebencian.

Belum dua jam dia berada di rumah, sekarang dia sudah pergi lagi meninggalkan hati yang tergores, Goresan yang semakin tajam menusuk ulu hati dan menikam jantung.

Rindu bukanlah duit receh yang bisa kita bagi – bagi ke mana kita suka. Rindu memilih siapa yang dia tuju, ke hati mana dia hendak bergelayut.

Jika rindunya terabaikan, hatinya tersayat sembilu, jeritannya bisa mengoyak kalbu. Perasaanpun serasa tercabik-cabik, inikah yang namanya pilu?

Kutabahkan hati dan tak berhenti berharap. Semoga ada cahaya yang menggiringnya untuk kembali


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Merindukan Gang Iblis

By. Rien Sudah sangat lama kami meninggalkan tempat itu. Namun, seakan ada suara yang terus memanggil. Sebenarnya ada apa di gang iblis? Gan...