Rabu, 10 Juli 2019

Kaki dan Aksara

By : Arieny







Banyak jalan yang terbentang untuk meraih tujuan. Jalan mana yang hendak kau pilih?

Di saat malam mulai kelam. Hitam legam dan mencekam, Aku terdiam menahan beban yang tertahan.

Engkau datang tepat di sepertiga malam, ketika aku baru saja menyelesaikan sujud terakhir solat malam di atas sajadah panjang ini.

Engkau datang sesuai dengan janjimu waktu itu.

Katamu, "Aku akan terus melihatmu berjalan dan berlari dalam kehidupanmu. Saat engkau tertawa dan gembira aku akan ikut tersenyum dari kejauhan, merasakan kegembiraaan seperti yang engkau rasakan. Jika engkau tersungkur terjatuh, aku akan datang membantu berdiri serta mengobati lukamu agar bisa berjalan dan berlari lagi."

Hmmm... terharu dan senangnya hatiku mendengar kata-katamu sobat...

Sekarang engkau datang membelah malam di tengah kesunyian yang mencekik. Engkau datang sendiri tanpa ditemani rembulan dan bintang gemintang. Tidak ada juga keriuhan suara jengkrik yang mengiringi langkahmu.

Belum sempurna simpuhmu engkau tanyakan kabar kakiku.

“Apa warna kakimu?”

Aku tersenyum menyambut kedatanganmu dan menjawab pertanyaanmu dengan sedikit tersipu malu

"Kakiku berwarna putih bersih, seputih kelinci imut yang lincah melompat kian kemari, menari-nari dengan riang gembira.”

Spontan engkau memandang kakiku yang dibalut oleh kaus kaki berwarna putih...

Opss...untung saja aku pake kaus kaki, kalau enggak dia akan melihat kalau ternyata kakiku rada-rada coklàt kehitaman. Heheh...jadi malu.

Dia terdiam sejenak, kemudian bertanya lagi.

“Mengapa kamu masih punya kaki sampai saat ini?”

Aku ambil nafas sejenak dan menjawab dengan penuh keyakinan.

“Suatu nikmat dari Allah swt yang tidak terkira, masih mengizinknkanku menikmati langkah ini dengan sepasang kaki pemberianNYa.”

“ Lalu bagaimana caramu menyedekahkan kaki?”

“Terus aku ayunkan sepasang kaki ini dengan nada-nada yang indah, menapaki tangga-tangga kebaikan dan menebarkan virus cinta kepada setiap insan yang membutuhkan."

"Membawanya pergi dengan mengikuti panggilan hati. Hati yang menuntunnya untuk senantiasa berpijak pada tempat yang lurus. Walau cobaan silih berganti dan ada duri di setiap tanjakan, namun kaki ini tak akan berhenti dan terus melangkah.”

"Heyy...aku haus nih, kamu ngga kasih sobatmu ini minum?" Katamu sambil menatapku penuh harap.

"Duh maafkan aku sobat, kedatanganmu membuatku bahagia, hingga lupa menyuguhkanmu segelas kopi pahit kesukaanmu."

Setelah menyeruput setengah gelas kopi engkau bertanya lagi.

“Berapa sebenarnya harga kakimu?”

“Sobatku sayang, jangan coba-coba menawar kakiku, percuma saja karena tak ada hasratku untuk melepasnya walaup engkau tebus dengan harga selangit sekalipun."

"Seandainya kakiku ini mau ditukar dengan berlianmu aku juga tak akan bergeming, karena dengan sepasang kaki ini inginku jelajahi persada yang luas ini untuk menemukan berlianku."

"Sejatinya kakiku ini sangatlah berharga untuk kehidupanku."

"Ya ngga lab sob, aku tak akan membeli kaki cantikmu itu, karena hartaku tak cukup untuk membayarnya."

“ Oh ya, Sob, aku pengin tahu nih, apa saja hal terindah yang telah dilakukan kakimu?”

"Dengar baik-baik yan Sob, semenjak kaki ini bisa melangkah sudah banyak jejak kenangan yang diukir. Berjalan dan berlari bersama orang-orang terkasih.”

“Masih segar dalam ingatan, bagaimana dulu ayah dan ibu memijiti kaki ini dengan dengan penuh cinta kasih, disaat aku jatuh dan kesandung dalam perjalananku mengasah kemampuan berjalan dan berlari.”

“Pelan namun pasti langkah kaki ini telah menuntunku menelusuri aliran ilmu dan mengisi relung jiwaku dengan tetesan penyiram kalbu.“

"Aku bisa menggapai cita dan cinta dengan langkah ini walau tertatih dan menuangkanya lagi kepada setiap gelas kosong yang haus dan butuh serpihan pengabdian tulus ikhlasku.”

"Langkah ini juga telah membawaku menikmati pancarona alam dan mensyukuri segala keindahannya.”

“Tak terhitung lagi berapa keindahan yang telah tersemaikan oleh ayunan langkah ini.”

"Iya Sob, aku juga tahu bagaimana kakimu selalu mengantarkanmu ke tempat pengabdian dengan penuh kesabaran dan tanpa kenal lelah. Kadang juga setia mengantarkanmu ke suatu acara di kala ada job ngemsi yang menghampiri."

"Jadi, berbahagialah sobatku... usir kesedihanmu. Nikmati dan syukuri atas semua karunia yang engkau terima selama ini. Kadang dalam melangkah rasa lelah mengusik dan membuat langkah menjadi tersendat. Tapi aku yakin kamu bisa melewatinya dengan hati yang lapang, aku juga yakin dan percaya kamu bisa menentukan ke arah mana kakimu mau dilangkahkan. "

Dinginnya malam mau berganti dengan sejuknya sang fajar. Engkaupun bersiap-siap pergi meninggalkanku. Namun sebelum melangkah engkau bertanya lagi.

“Apa hubungan kakimu dengan menulis?”

“Beserta jemari yang meliuk dan menari-nari akan kuajak serta kaki ini berdansa. Melangkah ke kiri dan ke kanan, berputar-putar mengiringi suara alam. Menuangkan suara hati dan melukiskannya dengan bahasa cinta.”

“Tak bosan terus kurangkai aksaraku dan dengan kaki ini kubawa mengitari awan biru dan di sana akan kusedekahkan tulisanku kepada bintang-bintang yang setia memancarkan cahayanya saat langkahku buntu tak tampak jalan."

"Terima kasih sobatku. Pembicaraan malam ini sangat menyenangkan hatiku. Maafkan aku ya yang sudah mengusik istirahatmu."

Sebelum aku menjawab dia sudah berlari dan menghilang ditelan kegelalapan."

"Iaa Sobaaaaat......terima kasih juga ya atas hadirmu dalam kehidupanku.!"

Aku tak tahu, apakah dia mendengar teriakanku. Semoga ada burung gereja yang mendengar dan menyampaikan padanya.

Sewaktu aku mau menutup pintu ada sobekan kertas yang ditempel di baliknya, ternyata sahabatku meninggalkan coretan di sana.

" Hati-hatilah melangkah, tergelincir sedikit masa depanmu akan suram dan engkau akan terpuruk pada penyesalan yang panjang."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Merindukan Gang Iblis

By. Rien Sudah sangat lama kami meninggalkan tempat itu. Namun, seakan ada suara yang terus memanggil. Sebenarnya ada apa di gang iblis? Gan...