Kamis, 29 Oktober 2009

PUISI

DO'A SEORANG GURU

Ya Allah...
berikanlah kami kekuatan
'tuk menorehkan goresan pada selembar kertas putih
mengisi gelas kosong dengan madu

Tuntunlah kami ya Allah...
menghilangkan dahaga murid-murid kami
yang haus akan ilmu
dengan penuh cinta kasih dan ketulusan

Ya Allah...
berikanlah kami kesabaran
'tuk hadapi murid-murid yang penuh ragam
Jangan biarkan bibir ini
melontarkan ucapan yang membuatnya terhina
jangan biarkan tangan ini
melayang pada tubuh mungilnya
hingga menyurutkan semangatnya

Ya Allah...
Bimbinglah kami mewujudkan harapannya
menjadi anak saleh dan salehah
serta dapat menggapai mimpi-mimpi duniawi
dan dapat membangun negeri tercinta ini
dengan kekuatan Iman dan ilmu.

RODA KEHIDUPAN
Roda yang berputar
gambaran dari kehidupan
ada saatnya di atas
ada saatnya bergulir ke bawah

justru itu
siapkan diri
'tuk hadapi
berbagai kemungkinan
yang bakal terjadi

ketika berada di atas
jangan biarkan kelengahan
menggelayuti diri
dan larut dalam luapan gelak tawa

saat berada di bawah
pupuk semangat bulatkan tekat
singkirkan kegalauan
halau segala ketidak berdayaan
jangan biarkan diri
terinjak dan tertindih.


KEKECEWAAN SEORANG LELAKI TUA

Seorang lelaki tua terduduk lemas di pojok rumahnya
kekecewaan yang mendalam tergores di wajah keriputnya
matanya menatap nanar ke langit-langit rumah biliknya
terkenang kembali masa-masa indah
bersama anak semata wayangnya

Masih terukir segar di dalam ingatannya
nasehat yang selalu dia dengungkan
Nak, jangan biarkan tangan lembutmu merampas milik orang lain
jangan biarkan tanganmu membawa lari yang bukan hakmu
ingat mencuri itu dosa
mencuri itu dosa nak
anak semata wayangnya mengangguk
patuh

Tapi itu dulu
dulu sekali
ketika anaknya yang pintar
masih menjadi anak yang patuh dan penurut

Namun kini
keserakahan telah telah membutakan hatinya
dengan tangan lembutnya
dia rampas yang bukan haknya

Air mata telah membasahi wajah keriput lelaki tua itu
ternyata anak semata wayangnya
tidak lagi menjadi anak yang patuh
dan penurut.

TERSENYUMLAH

Sepotong sajak buat anak-anakku di Nangro Aceh Darussalam
(Des, 2004)


Masih terlihat kesedihan di wajah polosnya
masih terlihat luka yang amat dalam
akibat bencana yang menimpa kota kelahirannya

Bangkitlah nak...
jangan menangislagi
kuburkan masa lalu, tolehkan wajahmu ke hari esok
tutup lembaran lama, kita buka lembaran yang baru

Walau gedung sekolahmu telah hancur,
seragammu telah tercabik-cabik,
buku pelajaranmu hanyut di bawa gelombang tsunami
walau air bah raksasa itu
telah memporakporandakan tanah kelahiranmu

namun semangat belajarmu jangan ikut tenggelam
jangan biarkan keputusasaan bergelayut dalam dirimu
engkaulah harapan bangsa
engkaulah pemimpin hari esok

Inginku lihat wajahmu berseri
menyongsong matahari esok yang menanti
tersenyumlah nak..!


TUJUH BELAS ENAM BELAS

Tujuh belas enam belas
di penghujung bulan sembilan
Ranah minang kembali diguncang gempa
gempa yang amat dasyat...

Gedung-gedung hancur
ribuan orang tertimbun reruntuhan
Sawah ladang disapu longsor
orang tua kehilangan anak
anak kehilangan orang tua
sanak saudara bercerai berai

semua bersedih
semua berduka
semua trauma
bumi minang menagis...

Tujuh belas enam belas
adalah teguran dari yang maha penguasa
untuk meninggalkan semua perbuatan dosa
dan kembali ke jalannya

Tujuh belas enam belas
di penghujung bulan September itu
menyisakan serpihan-serpihan hati
'ntuk menata kehidupan yang baru
yang benar-benar bersih.



Kamu Seorang


Malam semakin kelam
Senyap sepi mencekam
Keriuhan perlahan tenggelam
Oleh gelapnya malam

Hatiku masih terjaga
Jiwaku berkelana
mengembara
Menyeruak di sela-sela  dedaunan yang ditiup  angin malam
Dan terus mencarimu hingga ke awan hitam

Di manakah engkau duhai belahan jiwa
Di bumi bagian manakah engkau sekarang berada
Apakah engkau dengar suaraku
Yang terus memanggil namamu

Hatiku sungguh merindu
Menunggumu hadir di sini
Aku akan selalu menjaga hati ini untukmu
Dan tetap setia padamu
Walau berpuluh tahun menanti





Bisikan Rindu

Bisikan Rindu
Oleh : Delvia Andrini

Bisikan rindu dari lorong waktu
Menerobos gelombang jiwa yang masih membisu
Seirama hempasan ombak yang menghantam kalbu
Memecah keheningan sukma nan syahdu

Bisikan rindu dari lorong waktu
Senandungnya menyayat kalbu
Membuatku semakin tersedu
Dan tergugu

Dulu aku adalah serpihan luka yang berserakan
Berhamburan bersama sang waktu
Kutabahkan hati untuk terus bertahan
Tersudut dan terjepit di lorong yang berdebu


Deburan ombak semakin menepi
Nyanyian rindunya tak kunjung berhenti
Membuai angan melambung tinggi
Aku terbelenggu untuk sebuah kenangan pilu

Bisikan  rindu dari lorong waktu
Senandungnya membuat hati semakin berarti
Kunikmati setiap syair yang engkau dendangkan

Seiring beranjaknya kepiluan dan kesedihan 




Dukamu Negeriku


Duhai Ibu Pertiwi
Sungguh malang nasibmu
Musibah datang silih berganti
Tragedi demi tragedi menambah perih lukamu

Gempa yang amat dasyat telah menggoncang negeri ini
Banjir dan longsor menyapu bumi hingga rata
Badai datang memporakporandakan alammu nan asri
Tsunami dengan garangnya menenggelamkan keelokan negeri tercinta

Aduhai negeriku….
Begitu banyak kesedihan
kepedihan
Keperihan dan
Kepiluan yang mengiris-iris kalbu

Bencana demi bencana
Terlihat nyata di depan mata
Semua yang terjadi adalah takdir dari yang maha kuasa
Agar kita kembali ke jalanNya

1 komentar:

Merindukan Gang Iblis

By. Rien Sudah sangat lama kami meninggalkan tempat itu. Namun, seakan ada suara yang terus memanggil. Sebenarnya ada apa di gang iblis? Gan...