Kamis, 20 Agustus 2020

Memelukmu lagi setelah 30 Tahun

Napak Tilas Perjalanan Mengunjungi Bapak / Ibu Guru pada Masa Pandemi Covid-19 
30 Tahun Lulus dari MTsN Koto Nan 4 Payakumbuh.

By. Arieny

Masa-masa sekolah selalu indah untuk dikenang. Begitu juga kenangan di MTsN Kota Nan 4. Bertabur cerita di pojok lokal dan di hamparan pekarangan  sekolah yang beralamat di JL. Soerkarno-Hatta, Tanjung Gadang-Sei Pinago, Payakumbuh Barat ini.  Sangat manis untuk dibayangkan kembali dan ingin rasanya kembali lagi ke ruang itu.

Walau sudah lama berlalu, namun episode kisah  di bangku sekolah tak akan terlupa. Suasananya masih terasa. Ada rindu di setiap kelopak mawar yang masih tumbuh subur di halaman sekolah. Hijaunya dedaunan pohon mahoni selalu melambai-lambai memanggil hati untuk mendatangi gedung penuh sejarah itu.

Tiga puluh tahun, bukanlah waktu yang sebentar. Sudah banyak kisah yang diurai pada setiap insan lulusannya. Alumni angkatan tahun 1990 yang dinamai dengan label "90 Forever" Sudah bertebaran di berbagai kota di penjuru nusantara mencari peruntungan nasib masing-masing.

Waktu dan jarak telah memisahkan raga, namun hati tetap membuatnya dekat. keinginan untuk bertemu selalu menggebu. Komunikasi tetap terjalin,  silaturrahim terus dipupuk. Alhamdulillah kebersamaan dan  kekompakan  itu terasa begitu kuat. Membaur bersama, lebur dalam persaudaraan yang indah.

Tanpa terasa, tahun 2020 ini, Angkatan 90 Forever telah 30 tahun meninggalkan gedung Pelita dan gedung Swadaya tempat bernaung dulu. Menggali ilmu agama dan mencerna pelajaran umum. Mengeksplor kreatifitas di bawah bimbingan guru-guru tercinta.

Bapak / Ibu guru yang mengajar dengan ikhlas dan tulus. dengan kasih sayang dalam mengajar, hati kita begitu dekat pada mereka. Meninggalkan sekolah dulu, berarti kita juga meninggalkan separuh hati yang bersemayam pada tubuh Bapak / Ibu guru.

Memperingati 30 kelulusan dengan mendatangi rumah Bapak / Ibu Guru. Kita telusuri kembali lorong waktu yang sudah lama ditinggalkan. kita putari lagi liku-liku labirin  jejak cinta bersama sang guru.

Rindu ini begitu besar, tak tertahankan. Sekian lama dipendam dalam pusaran waktu yang panjang. Ada guru yang malah tidak pernah berjumpa lagi dalam rentang waktu yang sangat lama itu. Tubuh yang dulunya kekar kini telah sepuh dan rapuh. namun tatapannya masih seperti dulu. Penuh cinta dan kasih sayang. Ingatannya pun tidak memudar, masih ingat serpihan kisah yang terbentang dulu. Betapa rindunya kami padamu Bapak dan Ibu guru sayang.

Napak tilas perjalanan mengunjungi Bapak / Ibu Guru dilaksanakan selama tiga hari. Dari hari Kamis sampai hari Sabtu,  tanggal 25, 26 dan 27 Juni tahun 2020.

Pada Hari Pertama, Kamis tanggal 25 Juni 2020 kita mengunjungi empat orang guru. Bersama sembilan personil kita mulai dari perumahan Padang Leba Labuh Basilang. Mendatangi rumah ibu Fazilma,  guru Keterampilan Khusus. Waktu di sekolah dulu inisial nama beliau FZ.   Ibu Fazilma sangat keibuan, seorang guru yang mengajar dengan kelembutan dan menjadi tempat curhat bagi siswanya. menumpahkan masalah di usia remaja.

Ibu Fazilma





Ibu Fazilma sudah 15 tahun pensiun, sekarang umur beliau sudah 75 tahun. Kesehatan pun mulai menurun. Kaki ibu sakit untuk dilangkahkan. Apresiasi yang sangat luar biasa tatkala saat ini ternyata Ibu Fazilma masih mengingat nama kami yang datang dan bagaimana karakter kita dulu di sekolah. Ingatan beliau masih segar. Bisa bercerita dengan lancar ketika digiring kembali ke masa sekolah dulu.






Ibu Khasi'ah






Guru kedua yang kita kunjungi adalah Ibu Khasi'ah (KH). Guru Bahasa Inggris, yang kebetulan 
tinggal satu komplek dengan Ibu Fazilma. Di sini kita  kembali mengurai kisah. Bercanda seraya mengingat kisah masa lalu. Sama dengan Bu Fazilma, usia Ibu Khasi'ah sekarang juga sudah berusia 75 Tahun.








Ibu Farida Hanim
Selanjutnya Kita menuju Tambun Ijuk Batu Hampar mau menemui Ibu Farida Hanim. Guru bidang studi Fisika. Guru yang lucu dan suka bercanda di lokal. Di usia 85 Tahun Ibu Farida masih seperti dulu, banyak bercerita yang lucu-lucu. 
Ada satu pesan Bu PH yang terus diingat, dan menjadi slogan di kalangan personil 90 Forever, " Jika berteman itu, ya berteman, jangan diubah ke bentuk yang lain." Pahamkan maksudnya?
kalau belum, tanya Bu Farida lagi yaaa......








Ibu Hakimah








Dari kediaman Bu Farida Hanim, Perjalanan dilanjutkan menuju rumah guru Bahasa Indonesia di Piladang, Ibu Hakimah. Kediaman Bu Kim, (begitu Ibu biasa disapa) sangat mudah dijangkau, berada di pinggir jalan raya Payakumbuh - Bukittinggi. Saat kita ke sana ternyata Ibu lagi mendapat musibah,  suami tercinta lagi terbaring sakit. Sudah beberapa waktu tidak bisa berjalan. Semoga Bapak segera pulih sedia kala ya Bu. 






Di hari kedua, Jum'at tanggal 26 Juni 2020 Kitahanya bisa mengunjungi dua rumah Guru Guru. Pertama, yang kitakunjungi adalah kediaman Ibu Syafanet Rasyid di Tanjung Gadang Koto Nan 4. Bu Net adalah Guru PMP kita dulu. Beliau juga pernah menjadi kepala MTsN 2 Talawi Kec. Payakumbuh Utara. Masih terlihat  segar dan bersemangat. 

Ibu Syafanet Rasyid

Selanjutnya, dari kediaman Bu Syafanet, kita bergeser ke rumahnya Bu Ani, guru Bahasa Arab. Karena Bu Ani dan Bapak lagi kurang sehat, maka kami hanya berbincang di halaman saja. Tapi tak apalah, rindu ini juga sedikit terobati setelah bertatap muka dengan Bu Ani.


Sosok yang disiplin dan sangat tegas. Begitulah gambaran terhadap beliau. di usia yang ke 85 tahun saat ini Ibu Nur Husni Kamil masih terlihat penuh semangat dan antusias. Sosok penuh kharisma guru Matematika di MTsN. Ibu Nur, begitu sapaan akrab beliau meyambut hangat kedatangan kita yang berkunjung beberapa waktu sebelum azan solat Jum'at berkumandang. Di kediaman Bu Nur, cerita masa lalu kembali bergulir. 


Kediaman Bapak Syukur adalah tujuan kita selanjutnya. Pak Syukur tinggal di Padang Koli, Simalanggang Kab. 50 Kota. Guru IPS kita ini masih terlihat  gagah dan kokoh. 

واعتصموا بحبل الله جميعا ولاتفرقوا   Artinya, “Berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah dan jangan bercerai berai!” (QS Ali Imran: 103).
Ayat pertama yang kita pelajari dari Bapak Syarkawi, guru Alqur'an Hadist. Sampai saat ini menjadi pegangan bagi kita untuk menjalin persatuan dan kesatuan yang berpegang pada tali Allah. Saat ini Bapak Syarkawi sudah berusia 85 tahun. Dalam usia senja ini, Pak Kawi begitu biasa beliau dipanggil menghabiskan waktu di kampung halaman beliau di Ampang Gadang Kabupaten 50 Kota. Keadaan Pak Kawi saat ini, kurang sehat. Kaki sakit untuk dilangkahkan. Beliau dikampung didampinggi oleh iibu yang saat ini juga dalam keadaan sakit. Semoga segera diberi kesehatan ya Pak Bu.


Ibu Ani

Bapak Syukur

Bapak Syarkawi

Alhamdulillah wa syukurilah kita sudah diizinkan oleh Allah SWT untuk mengunjungi Bapak Ibu Guru yang telah menyemai ilmu dan cinta pada tiga puluh tahun yang lalu. Walau pun baru sembilan orang guru yang bisa dikunjungi, namun kerinduan hati ini sedikit terobati. Mohon maaf pada Bapak/ Ibu guru yang belum sempat didatangi. InsyaAllah di lain waktu akan kita agendakan lagi mengunjungi Bapak Ibu sang pemberi suluh kehidupan.

Terima Kasih banyak Bapak Ibu Guru, 
Engkaulah pelita yang memberikan penerangan.
jasamu akan kami kenang slalu
semoga Apa yang telah Bapak Ibu berikan 
menjadi ladang amal di dunia dan akhirat.
Aamiin.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Merindukan Gang Iblis

By. Rien Sudah sangat lama kami meninggalkan tempat itu. Namun, seakan ada suara yang terus memanggil. Sebenarnya ada apa di gang iblis? Gan...