Tampilkan postingan dengan label Literasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Literasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Juni 2019

The Best Affirmation

By Rieny
Gerimis baru saja menyapa senja. Aku duduk sendiri di pojok taman padepokan JeWe menikmati hembusan semilir angin yang bertiup sambil meyeruput Cappucino rasa moca dan melahap sepotong singkong rebus. Hmm...kolaborasi yang sangat nikmat untuk disantap di senja yang sejuk ini.

Belum tuntas melahap satu gigitan singkong rebus, terdengar suara Coach El menggelegar menyapa semua gen JeWe yang lagi asyik membahas tentang Kopdar yang akan digelar di Solo akhir bulan ini.

Aku pasang kedua kuping dan fokus mendengarkan petuah Coach. Dedaunan yang dari tadi melambai-lambai ke kiri dan ke kanan terhenti sejenak dengan aksinya, seolah ikut terkesima dengan suara Coach yang tegas namun berisi.

“Wahhhh....mantap, ada Coach di kelas, bakal ada ilmu baru nih”, Gumamku dalam hati seraya menyeret kaki melangkah ke arah sumber suara. Kupu-kupu cantik yang sedari tadi bertengger di bagian belakang hijabku yang bermotif bunga mawar juga terus mendorongku masuk ke ruangan kelas. Ternyata ada kuliah gratis senja ini. Coach bermurah hati berbagi ilmu dengan para gen JeWe Nasional.

Tok tok tok....

Kuketuk pintu kelas dengan pelan, takut mengangetkan dan mengganggu kelas yang lagi seru-serunya.

Assalamualaikum, maaf Coach saya telat....

“ Waalaikumslam. Iya, ngga apa-apa, silahkan masuk”, Jawab Coach dengan ramahnya

Bola mataku yang bulat mutar-mutar mencari kursi kosong, alhamdulillah masih ada satu tempat yang tersedia di pojok kelas paling belakang. Tak apalah gumamku, berdiripun aku rela serela-relanya demi mendenngarkan materi dari Coach yang cetaarr membahana. Sayang sekali kalau kesempatan seperti ini dilewatkan begitu saja.

“Sahabatku sekalian, kelas ini sangatt rame, saya suka.Saya ucapkan terima kasih atas antusiasnya”, Suara Coach El terdengar jelas sampai ke belakang.

“Saya salut atas eksplorasinya, maka dengan senang hati, saya akan share tentang the best affirmation. Apakah semua siap untuk mendengarkan?”

“Mau banget coach...!”, Kelas bersorak riuh. Senang banget dapat ilmu baru dari Coach El.

“Yuk relaks dan baca Alfatihah dengan ikhlas”, Coah menjak semua gen JeWe berdo’a dulu.

Semua khusuk berdo’a. Agar ilmu yanng ditransfer nempel di otak dan merasuk ke dalam jiwa.

“Begini sahabat”.
“Menulis itu tidak sekedar merangkai kata dan menganyam kalimat. Lebih dari itu, menulis adalah pengungkapan mental, mindset dan visi. Mental yang lemah akan cenderung melahirkan tulisan yang lemah juga secara konten”.

“Mindset yang kurang tetap dan tidak kokoh cenderung melahirkan tulisan yang lebay, ngoyoworo dan kurang motivasional”.

“Sedangkan visi yang kurang tajam cenderung melahirkan tulisan yang greget dan kurang visoner”.

“Ada pertanyaan?”

Mba titin langsung anngkat tangan dan bertanya, “Bagaimana cara melahirkan visi yang tajam dalam tulisan coach?”

“Perjelas dulu visimu tentang menulis dan tulisan”

“Coach pernah bilang harus kokoh tajam dalam penulisan tidak lemah seperti buk Tunjungsari... Lalu Apakah selalu yang berbau majas itu lebay?... Aku masih kurang paham”. Bunda Tan ikut bertanya.

“Majas itu kecerdasan kreatif. bagus jika timing dan jumlahnya tepat, kalo kelebihan ya lebay.....”

Kelas hening, semua terpaku mendengar penjelasan Coach.

Affirmasi adalah salah satu cara mudah membangun mental, mindset serta visi. Affirmasi adalah sugesti diri.

Aku harus menjadi penulis sukses. Ini contoh afirmasi yg kurang bagus

“Kenapa kurang bagus coach?”, tanya Dek Nurma

Bedakan dengan ini. “Aku rela menjadi penulis yang sukses”.

Oh iya, karena ada kata harusnya ya Coach, jadi kesannya ada unsur keterpakasaan”.

“Cerdaaas.... kata harus dan pasti cenderung membuat otakmu kurang nyaman”.

Aku harus sukses

Aku rela jadi orang sukses

Kamu bisa merasakan mana yang lebih nyaman?

Affirmasimu akan powerfull dan bekerja jika
1. Simple dan atau mudah dicerna
2. Nyaman dihati
3. Harapan yg tinggi
4. Melibatkan Tuhan

“Bagaimana affirmasi yang powerfull hubungannya dg selftalk coach?”

Urutannya begini dalam beraffirmasi.
1. Afirmasi
2. Aformasi
3. Selftalk
4. Servo

• Affirmasi yg diucapkan berulang ulang secara rutin akan tercatat lekat dalam memory jangka panjang.

• Setelah dicatat lekat dan anda masih rutin melakukan affirmasi maka di akan mempunyai jaringan tersendiri dalam otak

• Kalo sudah seperti ini, maka, lebih mudah terwujud dan otomatis meningkatkan pede, mental dan mindset.

• Affirmasi dan afformasi yg dilakukan dg rutin serta disiplin akan mempengaruhi selftalk.

• Selftalk adalah bisikan batinmu yg setiap hari mengarahkanmu utk mengambil sikap dan tindakan

Luar biasa materi senja ini, membuat semua gen JeWe semakin terpacu dan termotivasi untuk terus menulis. Rona wajah kian berseri, ada harapan yang tersembul untuk menjadi penulis yang dirindukan. Makasih banyak Coach....
.
Aku rela serela relanya, setiap hari aku makin bahagia dan tulisanku makin lezat memesona serta menjadi sedekah atas ijin Allah. Aamiin.

Bill gate setiap pagi mengucapkan affirmasi dg khidmat walau sudah trilyuner. Bagaimana dengan kita?


Minggu, 02 Juni 2019

Menggapai Berlian

SELANGKAH SAJA pantang bagiku untuk surut. 

"Sekali layar terkembang, pantang surut kebelakang"

Kata yang sudah terucap tak bisa ditarik lagi (pesan wa kali ya bisa ditariiik...). Air ludah yang sudah dibuang tak mungkin dijilat lagi...hiii....

Tekadku sudah bulat dan hatiku sudah mantap untuk mengepakkan sayap di padepokan ini. 

Ingin mempelajari lebih dalam lagi jurus-jurus sakti yang kugunakan untuk menaklukan kata.

Aku ingin menjadi pemenang. 

Sekurang-kurangnya jadi pemenang bagi diri sendiri, yang berhasil mengalahkan rasa malas yang sering bergelayut manja. Melemparkan semua beban yang berkecamuk. Mengikis habis ketidak percayaan pada diri sendiri. Kugulung semuanya, kulibas habis dan kubuang kelaut...

wusshhh...

pergilah jauh-jauh dan jangan berani kembali lagi. 

Sedikit saja mendekat, jurus saktiku akan membuatmu hancur berkeping-keping dan menjadi butiran debu...
Ingat jangan balik lagi..!

WALAU KAKIKU terus ditarik-tarik keluar oleh  kurcaci kecil yang manis  yang suka mengintip lewat jendela padepokan, aku tetap bertahan. Aku genggam semangatku dan kudekap erat impianku.

TAKKAN kubiarkan seekor lalatpun  mematahkan sayapku, apa lagi mematikan hasrat hati yang ingin melalang buana. 

Selangkah saja mendekat jemariku yang meliuk-meliuk langsung mengulurkan salam perkenalan sekaligus salam perpisahan untukmu

Plok
Plok
Plok

Selamat jalan buatmu. Deritamu karena telah berani mengusik sayapku yang ingin terbang di langit biru.
Maafkan daku ya....

Sayap indah ini membawaku mengembara. Terbang ke angkasa, menari-nari, meliuk-liuk mengiringi irama awan yang berarak.  

Aku bercengkarama dengan bintang gemintang yang memancarkan sinarnya menerangi tubuhku yang gelap.

Rembulan tersenyum memandangiku dan mengajakku berdansa mengitari istana di atas awan. 
Sungguh indahnya tiada tara. Kunikmati setiap sudut sensasinya tanpa ada secuilpun terlewatkan. 

Berselancar di atas awan membuatku lupa pulang, HINGGA rembulan berbisik mengingatkanku untuk kembali. Sebelum pulang aku diberi hadiah sebutir berlian oleh raja awan. Aku melompat - lompat, bersorak kegirangan dan berulang kali mengucapkan terima kasih kepada Raja Awan.

Kerlap kerlip cahaya bintang menerangi  sayapku yang mulai mengepak dan turun ke bumi.

Tiba-tiba seekor elang hitam yang sangat besar menyambar berlian yang ada dalam genggamanku. 

Seeerrr....
Berlian terlepas, aku kaget....sambil berteriak aku bergegas mengejar elang yang sudah terbang tinggi dan menghilang di balik awan.

Aku lelah mengejar, lemas dan akhirnya terjatuh.

Brukkk
Bumm

Tau-tau aku sudah berada di bawah tempat tidur, dan berlianku masih disembunyikan Coach, tersimpan di dalam peti yang terkunci.

Kata Coach, aku bisa mendapatkan berlian itu dengan syarat mesti bisa membuka kunci itu dengan jurus-jurus sakti yang ditularkan oleh Coach.

Aku tabah dan sabar mempelajari jurusnya satu persatu
HINGGA bisa kubuka kunci peti itu. Dan kuraih berlianku. 

Perlahan namun pasti  aroma kebahagian mulai tercium. Semerbak dan mewangi membalut raga.

Kurasakan virusnya semakin menyebar dan terus menyebar mengalir ke seluruh tubuhku, menyelusup indah melalui pori- pori keceriaan.
Virus bahagia itu telah merasuk dalam jiwa,

Aku ikhlas dan pasrahkan hati di sini walaupun terjewer-jewer. 

#PolaHipnotik
#JW47
#MenulisItuSedekah
#MenebarVirusBahagia
#PadepokanJW

Minggu, 26 Mei 2019

TERJERAT

Kalau sudah terjerat begini, aku harus bagaimana?

Sungguh aku tak biasa tanpa sapaanmu yang hadir setiap pagi. Senyum lembutmu yang menggetarkan sukma berpacu dengan sang mentari yang menebarkan keindahannya. Aku terjerat oleh pesona yang engkau tebarkan dan tak mau lepas lagi, walau beribu tikus sawah saling tindih menindih mencoba memutuskan jeratannya dan mengerogoti setiap buhulnya. Sang tikus gagal menuntaskan hasratnya. Tubuhnya jungkir balik  melawan virus yang sudah tersebar dengan rata di seluruh urat nadiku.

Jeratanya begitu kuat, aku terperosok ke dalamnya. Kupasrahkan ide kreatifku bercengkrama dalam pengaruh hipnotisnya.  Kubiarkan tubuh ini meluncur berkelana menjelajahi alam kata dan mengumpulkan akasara yang berserakan dan membingkainya dalam satu ungkapan cinta. Cintaku padamu Kampus JW

Jerat-jerat biru itu terus menuntunku untuk  untuk terus memainkan jemari, Mengukir kata demi kata dan meramunya agar lezat dan memikat . Jemari yang kadang merajuk tak mau berselancar. Namun virus yang kamu sebarkan setiap pagi mampu menggelitik sang jemari bangkit dari tidur pulasnya.
Walau telah kubuka semua jeratan yang melingkari tubuhku, tapi virusnya sudah terlanjur tersebar merubah warna darahku menjadi pelangi. Jurus-jurusmu mampu menohok setiap persendianku.

“Kamu jangan malas, ayo mulai beraksi, praktekkan jurus-jurus yang sudah aku berikan!”. Teriak dosen El di suatu pagi.

“Jika kamu cemas dan banyak mikir, maka otak kreatifmu parkir. Imajinasi dan idemu mangkir serta naluri menulismu terkilir. Mau?”

Suara Pak dosen yang menggelegar membuatku tersentak dan mengagetkanku dari lamunan.
“Ngga mau Pak dos” Jawabku sambil merapikan kerudung warna merah muda yang hampir terbang karena kaget oleh suara Pak dosen.

“Begini sahabat”, Suara dosen El mulai melunak.
“Saat pertama menulis, menulislah dengan cepat, spontan dan penuh suka cita, agar otak kanan dan otak kreatifmu optimal. Agar imajinasi dan idemu mengalir lancar. Agar naluri menulismu merekah dan tajam”.

Aku mangut-mangut berusaha memahami apa yang disampaikan dosen El.

“Agar lebih lihai, saya berikan satu pola ya”.

Selama ini, aku merasa…sedangkan kamu…..akhirnya….

“Tuliskan saja apa yang kamu fikirkan, jangan takut salah, ini bukan UNBK” kata dosen El
Seluruh gen JW mulai memainkan otak kreatifnya.

“Ijin dulu sholat dzuhur Pak Dos, mudah-mudahan selesai sholat idenya langsung berjatuhan dari langit ke 7”, bunda Hamidar pamit meninggalkan kelas.

Bunda Marsilah, menuliskan rangkaian katanya di papan tulis.

“Selama ini aku merasa dipermainkan oleh keadaan, hingga aku merasa diriku tak berguna, sedangkan ada keinginan dalam hatiku untuk bangkit, akhirnya kuberanikan diri untuk berdiri dan melangkah menggapi cita-citaku”.

“Baguuuuuus nih, lanjuuut! “. Dosen El memberi semangat.

“Pola tadi saya buat untuk membantumu agar tulisanmu lezat”.

Gen JW semakin terpompa semangatnya dan terus berlatih meramu kata menjadi lezat dan memikat siapapun yang membacanya.

Aku mulai mencoret-coret kertasku, memainkan jemari mengikuti pola yang telah disuguhkan dosen El tadi.

“Selama ini aku merasa kamu mengabaikanku, meninggalkanku dan melupakan semua kisah tentang kita, sedangkan kamu terus mencariku tanpa aku sadari. Akhirnya secarik kertas itu kembali mempertemukan kita”.

“ Mau tidak saya bisikin rahasia lain agar tulisanmu lebih kreatif?

“Mau Pak dos”, aku bergegas menjawab. Takut nanti Pak dosennya berbah pikiran.
Pada pertemuan kali ini kita akan belajar jurus-jurus yang membuat tulisanmu akan selalu dirindukan pembaca. Yuk berdo’a dulu dan bertanyalah!

 “Apa saja jurusnya Pak dos?” Tanyaku dengan lutut yang masih gemetaran efek kaget tadi.

“Tuh baca di papan tulis, jangan melamun saja……

Pandanganku beralih ke depan, berusaha memahami satu persatu jurus yang telah disajikan Pak dosen.

Agar Jenial tulisanmu harus:
o  Usil
o  Peka
o  Ngulik
o  Menggali dengan kompetensi
o  Berani mengeskpresikan
o  Memperbaiki kualitas diri

“Nah sekarang silahkan berlatih lagi, tuangkan seluruh idemu, jangan ragu-ragu menuliskan apa yang terasa, tanpa takut salah dan banyak mikir, kebanyakan mikir nanti otakmu mangkir”. Dosen El memberi instruksi. Silahkan berpasangan ya….

Kelas menjadi riuh mencari pasangan masing-masing. Saling berpacu beradu imajinasi dan memainkan kata-kata mempraktekkan jurus yang diberikan Pak dosen.

Suasana begini makin membuatku terjerat dan terpikat, belajar tanpa beban dan semua mengalir apa adanya.
Tikus-tikus sawah terduduk lesu di sudut kelas. Patah hati karena gagal memangkas habis jeratan yang melilit tubuhku.

Sungguh kampus JW semakin menjeratku. Salahkah kalau aku terjerat?

#JeniusWriting
#JW44
#menulisitusedekah
#virusbahagia



Minggu, 07 April 2019

Semangat Literasi

       


Salam Literasi
        Dongeng yang sering dibacakan ayah sebagai pengantar tidur semasa kecil mengawali kecintaan saya pada buku dan membuat saya gemar membaca. Cerita sebelum tidur tersebut menjadi kegiatan rutin di keluarga kami, ayah dan ibu dengan sabar membacakan cerita untuk kami anak-anaknya sampai kami terlelap dan melanjutkan cerita di alam mimpi walau dari raut wajah beliau terlihat rasa lelah oleh aktivitas siang hari.

         Di pojok rumah kami yang sederhana terdapat rak buku yang tersusun dari koleksi buku-buku milik ayah dan ibu beraneka judul, berhubung ayah adalah seorang guru Madrasyah Aliyah maka buku keagamaan yang menjadi dominasi koleksi buku kami. Koleksi buku di rak terus bertambah setiap bulannya karena ayah juga seorang pecinta buku dan sering menghabiskan waktunya untuk membaca. Ayah pun ingin menularkan kegemarannya membaca kepada anak-anaknya. Kami sering mendapat hadiah buku dari ayah bila kami mendapatkan prestasi tertentu dari sekolah dan ayah juga rutin membelikan kami majalah anak-anak setiap minggunya seperti majalah bobo, ananda dan majalah sahabat. Waktu itu saya paling suka membaca kisah-kisah nusantara dan frofil siswa berprestasi.

        Seiring dengan perkembangan usia, saat remaja saya mulai melirik novel dan majalah remaja. Novel detektif dan roman percintaan menjadi bacaan favorit saya. Di usia remaja juga keinginan menulis mulai muncul dan diaripun adalah tempat pertama bagi saya untuk menorehkan rangkaian kata dan menjadikannya menjadi sebuah puisi. Yach… menulis puisi adalah cara saya mengungkapkan perasaan dan semua kegalauan yang dialami sehari-hari. Terkadang juga saya iseng mengirimkan puisi-puisi tersebut ke media cetak. Salah satunya adalah ke surat kabar Canang. Puisi pertama saya yang diterbitkan oleh surat kabar Canang adalah puisi yang berjudul Tekatku. Selain menulispuisi sekali-sekali saya juga menulis artikel dan saya kirim ke surat kabar daerah dan koran kampus. kadang dimuat tapi ada juga yang tidak dilirik. Senang tak terkira tatkala tulisan saya terpajang di halaman surat kabar, sungguh bahagia rasanya mendapatkan honor dari artikel yang dimuat media, alhamdulillah walaupun honornya tidak seberapa tetapi sangat memotivasi saya untuk terus menulis. Di kampus saya juga sering menitipkan tulisan di tabloit Ganto, nama tabloit kampus saat itu.
   
        Untuk mengasah kemampuan di dunia tulis menulis ini pada tahun 1994 saya mengikuti pendidikan dasar jurnalistik yang diselenggarakan oleh unit kegiatan komunikasi dan penerbitan kampus (UKKPK) salah satu unit kegiatan kampus IKIP Padang yang saya ikuti semasa mahasiswa. Banyak ilmu dan trik menulis yang saya dapatkan dari diklasar ini, tetapi karena waktu itu sedang banyak-banyaknya tugas kuliah maka ilmu yang saya dapatkan tersebut belum semuanya bisa saya terapkan karena tidak bisa fokus, hanya puisi yang masih rutin saya tulis.

        Dengan perkembangan teknologi saat ini, banyak tempat yang menjadi wadah kita untuk menulis, kita bisa menulis di web, di blog dan media-media sosial yang semakin menjamur. Dan dari media sosial kita  banyak mendapatkan informasi tentang dunia tulis menulis dan banyak artikel dan kisah-kisah bagus yang bisa kita baca. Kita juga bisa mengikuti kelas menulis online.  Wadah- wadah tersebut memicu kembali semangat menulis yang sempat terhenti, seolah menjadi gerbang untuk kembali aktif dalam dunia merangkai aksara. Alhamdulillah satu buku sudah  diluncurkan, insyaallah akan menyusul buku yang kedua.

           Tak ada kata kenal lelah untuk terus menambah wawasan di dalam dunia literasi. Selalu sabar menyebarkan virus membaca ke anak-anak di rumah dengan menyediakan buku-buku bergizi untuk mereka baca dan menjadi santapan harian mereka. Tiada hari tanpa membaca dan menulis.

Semangat membaca
Semangat menulis
Salam literasi
       
Koleksi Pribadi


Workshop Sagusaku (Satu Guru Satu Buku)

           Di media sosial juga saya kenal dengan IGI, dan sering mengikuti perkembangan kegiatan yang dilaksanakan oleh IGI khususnya IGI Wilayah Sumbar, melalui group IGI saya mendapatkan informasi tentang kegiatan Sagusaku (satu guru satu buku) yang sedang berlangsung sekarang. Sagusaku adalah kegiatan kedua worshop IGI yang saya ikuti, sebelumnya beberapa bulan yang lalu saya juga mengikuti workshop Sagusamik (Satu guru satu samik) yang sangat bermanfaat diterapkan dalam proses belajar mengajar.
           Workshop Sagusaku bertujuan memberikan pelatihan kepada guru yang berminat untuk menulis buku dan trainernya membimbing guru peserta sagusaku sampai buku itu terbit. Workshop yang dilaksanakan pada tanggal 6-7 Juni dengan Nara sumbernya adalah Bapak Edi Sutarto Masternya Sagusaku, penulis buku best seller Pemimpin cinta dan Ibu Noerbat Ketua IGMP Pusat Bahasa Indonesia.

           Beruntung sekali  bisa ikut workshop ini, selain nara sumbernya yang super keren semua  pesertanya juga penuh semangat dan antusias, walau acaranya  belum dimulai tapi aura literasinya sudah mulai terasa yang membuat saya semakin termotivasi mengikuti kegiatan ini. Mudah-mudahan kegiatan ini menjadi gerbang bagi untuk kembali terjun ke dunia tulis menulis dan menuntaskannya menjadi sebuah buku.

Aamiin Yaa Rabbal Aalamiin…..

Bersama Bapak Edi Sutarto Masternya Sagusaku, penulis buku best seller Pemimpin cinta


Sagusator memang cetar membahana
(Workshop Sagusator "Satu Guru Satu Editor")
24/25 Desember 2017

        Mengawali libur semester kali ini kami mengikuti Worshop Sagusator ( Satu Guru Satu Editor ) yang dipelopori oleh IGI KOta Padang yang diketuai oleh ibu Yossi Shandra. Worshop Sagusator dilaksanakan selama dua hari
yakni pada hari Minggu dan Senin tanggal 24/25 Desember 2017 bertempat di plasa Telkom Padang yang kebetulan juga sebagai sponsor kegiatan ini.
Workshop Sagusator dibuka secara resmi oleh Sekretaris Wilayah IGI Sumbar bapaak Ramadhan Fitria.
        Menurut Ramadhan Workshop sagusator ini adalah sagusator perdana di Sumatera Barat.
Menurut ibu Yossi yang juga bertindak sebagai Ketua pelaksana Wokshop, kegiatan ini diikuti oleh 45 orang peserta dan panitia yang terdiri dari guru dan dosen dari berbagai jenjang pendidikan yang yang ada di wilayah Sumatera Barat dan Riau. Peserta bukan saja mereka yang sudah menulis buku tetapi juga boleh diikuti oleh calon penulis dan yang berminat dalam dunia kepenulisan.
Nara sumber pada workshop ini adalah Bapak Susrizal KW wartawan senior, direktur Harian Padang Ekspres sekaligus Direktur penerbit Kabarita di kota padang, dan Bapak Gus TF Sastrawan senior putra Payakumbuh.
        Pada Workshop ini kita belajar seputar dunia kepenulisan, cara mengedit buku dan penerbitan.
Pada Hari pertama dari Bapak Yusrizal KW materinya tentang seputar dunia penerbitan, seperti mengenal dunia penerbitan, tugas penerbit, serta buku da ISBN.
Bersama bapak Gus TF kita belajar membedakan beberapa jenis karya tulis, seperti artikel, essai, opini, puisi, cerpen dan sebagainnya. Bapak GuS TF juga menjelaskan bagaimana cara mengedit setiap karya tulis tersebut dengan mencoba mengedit karya tulis yang sudah dibuat oleh peserta Sagusator.
       Materi terakhir pada workshop ini adalah kami belajar membuat profosal buku atau karya tulis yang lainnya untuk diajukan ke penerbit agar diterima oleh penerbit tersebut.
Banyak ilmu baru yang kami dapat pada workshop Sagusator ini yang akan mendukung untuk menulis buku, mengeditnya sampai pada penerbitkannya. Waktu yang dua hari sangatlah kurang, mudah-mudahan ada kegiatan-kegiatan sejenis yang dilaksanakan oleh IGI kota atau kabupaten ataupun IGI Wilayah Sumbar berikutnya. 

Workshop Sagusator sungguh cetaaaar…..

Salam Literasi.




Merindukan Gang Iblis

By. Rien Sudah sangat lama kami meninggalkan tempat itu. Namun, seakan ada suara yang terus memanggil. Sebenarnya ada apa di gang iblis? Gan...