Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Desember 2020

Merindukan "Gang Iblis"

By. Rieny

Sudah sangat lama kami meninggalkan tempat itu. Namun, seakan ada suara yang terus memanggil. Sebenarnya ada apa di gang iblis?

Gang Iblis memiliki tempat sendiri di sanubari. Bertabur  kenangan tercecer di gang yang terletak di pusat kota itu. Setiap episode kisah pada masa kanak-kanak  begitu melekat dan terpahat indah di hati hingga saat ini.

"Eeit...tunggu dulu Uni, ngga salah tuh ngabisin masa anak-anaknya di gang iblis?"
Tanya Hindun sambil melongo. Netranya menyipit diiringi kening yang mengerinyit.

"Iya Ndun, bener. Emangnya kenapa Ndun?"

"Hahhh, apa ngga takut Uni, tinggal bersama iblis?" 
Hindun memangut lututnya dan bergeser duduk merapat ke dinding. 

"Hahaa....ngga gitu Ndun, ngga tinggal bersama iblis."
"Terus gimana Uni?"

"Kapan-kapan ya ceritanya, udah larut nih. Tidur yuuk!"


Menelusuri jalan setapak ini mengingatkan kembali pada puluhan tahun yang lalu. Kenangan di Gang Iblis. Selalu ada kerinduan untuk sekedar melewati gang itu. Menatap halaman tempat bermain dan bercengkrama dulu dengan teman-teman.  Apalagi untuk berjumpa dengan semua personilnya gang iblis....sungguh, rindu sangaaat...!

Rasa persaudaraan yang tinggi menyebabkan ikatan rasa itu masih terjalin hingga sekarang, walau pun semua sudah menyebar, terpisahkan oleh jarak.

Di balik namanya yang rada-rada gitu ternyata warga gang ini tidak seseram labelnya.Penghuninya manis, cantik dan ganteng-ganteng....Suer deh...! 

Ngga percaya, yuk kita sapa beberapa personilnya, ada teman sepermainan
Wak Kiky
, ada Uni
Nurhelida Aprianto
, dekcan
Meta Dikpa Sevta
,
Gita Islamy
,
Marlia Hardi
...siapa lagi yaa....?
"Kenapa namanya angker gitu uni?"Hindun kembali duduk sambil menguap.
"Jangan tanya kenapa Ndun, Uni juga ngga tau."
"Ada yang bisa jawab?"
Colek semua uni-uni, sahabat dan adik-adik cantik penghuni gang iblis. Apakah kita memiliki kerinduan yang sama?

Senin, 08 April 2019

Rumah Tua

Rumah ini terlalu renta untuk ku ajak bercengkrama atau sekedar untuk menyibak kenangan. Kenangan masa kecilku terpendam di sini. Banyak cerita yang terukir di setiap  helaian dedaunan yang rimbun melingkari bangunannya.

Tempat berteduh yang dulu kokoh, sekarang mulai rapuh, lapuk dimakan usia. Seiring dengan berpulangnya nenek menghadap illahi, perlahan rumah ini juga kehilangan rohnya. Tak ada lagi keceriaan di sini. Hanya rumah kosong dan kesepian yang kutemui di setiap ada kesempatan untuk pulang. 

Dulu...dulu sekali...di masa kecil, hampir di setiap liburku, dihabiskan di sini. Liburan ke rumah nenek adalah suatu moment yang selalu ditunggu. Lingkungannya yang asri, udaranya yang sejuk dan beraneka tanaman buah-buahan yang ada di sekeliling rumah bersahut-sahutan memanggilku untuk pulang kampung. 

Nenek sangat rajin bertanam. walaupun hidup sendiri di kampung, tidak mengurangi semangat nenek mengayun cangkul dan menanam buah-buahan dan tanaman lainnya, ada tanaman tua seperti kelapa, rambutan, durian, jambu, alpokat, cengkeh, duku, dan sebagainya. Tanaman muda juga banyak seperti pisang, terong, rimbang dan sayur-sayuran lainnya.

Disamping bertaman nenek juga suka memelihara ikan. Kami sering diajak nenek memancing ikan di kolam ikan yang tidak terlalu jauh dari rumah. Butuh waktu sekitar sepuluh menit sampai di sana dengan menurungi tebing yang kalau hujan turun jalannya agak licin yang menyebabkan agak susah buatku untuk turun. Begitu mengesankan saat-saat itu, sungguh bahagia apabila ikan nyangkut di mata kail, dengan semangat dan bersorak kegirangan aku mengangkat tinggi-tinggi pancinga tersebut dan melihatkan ke nenek ikan yanng aku dapat.

Terkadang kami juga masuk dan mencebur ke dalam kolam dan berburu ikan dengan menggunakan tangguk. tangguk adalah jaring berbingkai untuk mengkap ikan. Kami juga sering mengumpulkan siput yang menempel pada daun kelapa  atau yang menempel pada kayu dan patahan ranting pohon yang jatuth ke kolam.

Hasil tangkapan di bawa pulang, ikan digoreng kering dicampur dengan terong dan sedikit jengkol yang diambil juga dari kebun. kemudian siput digulai dengan daun singkong serta daun katuk. Hmm....begitu nikmatnnya makan dari hasil tangkapan sendiri. 

Tapi masa itu sudah lama berlalu. Nenek sudah tiada dan rumah kenangan itu juga sudah menua. Rumah gadang yang perlahan mulai runtuh dan atapnyapun sudah hilang satu persatu.  Namun bermacam tanaman buah-buahan yang ditanam nenek masih kokoh berdiri, menjadi saksi bisu kecerian masa kanak-kanakku dan kebahagianku bersama nenek tercinta. 

Rumah tua itu sudah lapuk namun kenanganku di sana tak pernah lapuk walaupun tahun terus berganti dan zamanpun berubah.

Merindukan Gang Iblis

By. Rien Sudah sangat lama kami meninggalkan tempat itu. Namun, seakan ada suara yang terus memanggil. Sebenarnya ada apa di gang iblis? Gan...