Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 September 2019

Belaian Kasih [Part. 8]

By. Rieny


“Hidup ini kaya akan rasa... Dan kita harus berusaha menikmatinya, meskipun itu pedas atau pahit. Kita harus berani mencoba, karena kekayaan rasa itulah yang memberi warna dalam hidup!”
― Maisie Junardy, Man's Defender


Baru saja semalam Tante Irma marah-marah padaku dan mengurungku semalamaan di luar berteman dengan angin malam dan guyuran hujan yang lebat. Akan tetapi kini tubuh catiknya terbaring lemah tidak sadarkan diri setelah jatuh dari kamar mandi tadi pagi.


Tante Irma masih belum sadar, terbaring tak berdaya dengan infus dan oksigen terpasang di tubuhnya. Dengan rasa sedih yang amat dalam aku dengan setia menemani tante sambil terus berdo’a untuk kesembuhan tante Irma.


Kring…..

Kring…..

Kring…...


Ponselku bordering. Ternyata ada panggilan masuk dari mba Jihan.


[Assalamualaikum Kasih]

[Waalaikum salam Mba Jihan]

[Kasih, bagaimana keadaan mama?]

[Mama udah sadar belum?]

[Maafkan aku Kasih, aku terjebak macet….bentar lagi aku sampai di sana]

[Tante Irma masih belum sadar mba, sekarang masih di ruangan ICU]

[ohh…..]

Terdengar isak tangis mba Jihan dari seberang sana.

[Mba Jihan tenang Mba, Dokter lagi berusaha menyelamatkan mamanya Mba,,,,]

[Kita berdo’a ya Mba, mudah-mudahan tante Irma cepat sadar]

[Baik Kasih…..]

[Papa dan Soni ada di sana Kasih?]

[Om Irwan dan mas Soni tadi ada di sini Mba, tetapi sekarang mereka sudah pergi lagi]

[Hahhhh…..kemana mereka?]

[Om Irwan katanya mau ketemu sama rekan bisnisnya Mba, dan mas Sonia da acara sama teman-temannya]

[oouh…]


Aku tak habis pikir kenapa Om Irwan dan Soni begitu tega meninggalkan tante Irma yang sedang meregang nyawa di rumah sakit. Lebih pentingkan acara mereka disbanding nyawa tante Irma?


Diujung telpon masih kedengaran isak tangis mba Jihan.


[Kasih kamu tetap di sana yaa….tolong jaga mama..!]

[Baik Mba Jihan, tentu….aku akan jaga Tante Irma]

[Makasih ya Kasih…]

[Iya Mba, makasih kembali…]

[Assalamualaikum]

[Waalaikum Salam Mba]


Selama ini hanya Mba Jihan yang peduli pada Tante Irma. Om Irwan selalu sibuk dengan urusan bisnisnya. Soni selalu pergi dengan teman-teman geng motornya.


“Kamu saja yang temani mama, aku ada acara sama teman-temanku.” Kata Soni siang tadi saat aku memintanya untuk tetap di rumah sakit menemani mamanya.


“Mas Soni….! Tante Irma belum sadar, tunda dulu acaramu dengan teman-temanmu.” Aku berusaha membujuk Soni.


“Udah ah…minggir….aku mau pergi, temanku sudah menunggu.” Katanya lagi sambil melepaskan tanganku yang berusaha menahannya.

“Mas Soni....teganya kamu meninggalkan mamamu yang lagi sekarat, kemana hatimu?” ujarku dengan sedikit berteriak.


“Kamu saja yang jagaian mamaku, ok..? Dahhhh……”katanya sambil berlalu.


Aku hanya bisa mngurut dada melihat sikap Soni yang tidak peduli terhadap mamanya yang lagi terbaring berjuang melawan maut.


Cinta tidak hanya serpihan ludah yang menempias dari lisan, tetapi adalah tentang kepedulian dan perhatian yang tertumpahkan tanpa henti sepanjang masa.[Edi Akhiles] 







Senin, 09 September 2019

Rindu Kampung


By. Rieny

Tidak satu jalan ke roma, banyak jalan yang bisa ditapaki dan ditempuh untuk menuju kampung halaman. Mengapa engkau masih terpaku berdiam diri?


Kubaca lagi pesan WA Emak kemarin.

Emak :
[Pulanglah Udin..., lebaran Haji kali ini usahakanlah pulang dua atau tiga hari...]

[Iya Mak, Udin juga pengen pulang, Udin kangen sama Emak dan Bapak, tapi keadaannya tidak mengizinkan buat udin pulang sekarang.]

[Udin tidak bisa ninggalin kerjaan Mak, liburanya hanya hari Minggu. Hari Senin mesti masuk lagi] balasku.

Emak:
[Baiklah nak...kalau gitu carilah waktu lain untuk bisa jumpa Mak dan Bapak di kampung]

[Emak dan Bapak sangat rindu padamu]

[Sudah lima tahun kamu tidak pulang]

[Iya mak, udin juga rindu...nanti Udin usahakan untuk menemui Emak dan Bapak]

Yah, sudah lebih kurang lima tahun aku tidak menginjakkan kaki di kampung halaman. Sejak aku menikah dan menetap di kota kelahiran istriku.

Diriku sudah tergadai ke tanah Jawa, dan istriku tidak mengizinkan aku untuk pulang kampung.

"Tidak Bang...abang jangan pulang, kita lebaran di sini aj." ujar Mimin istriku saat kusampaikan niatku untuk pulang.

"Sebentar aj Min, ngga sampai seminggu Abang udah balik lagi ke rumah."

"Kamu ikut Abang ya nengok Emak Dan Bapak." bujukku

"Aku ngga mau ikut ke kampungmu." jawab Mimin dengan suara yang mulai meninggi.

"Kalau gitu, Abang pulang sendiri aj." jawabku datar

"Ngga bang... Kamu jangan pergiiii....!"

"Kenapa ngga boleh?"

"Ngga boleeeeh...!aku Takut Bang, nanti kamu dijodohin lagi di kampung."

"Hehhhh kamu, aneh-aneh aj pemikirannya."

Begitulah, izin dari Mimin tak berhasil aku kantongi. Aku batal lagi buat pulang.

Kampung halaman terus terbayang. Padi nan menguning serta alamnya nan asri terus memanggil-manggil untuk pulang.

Jika kedaannya yang tidak memungkinkan apa yang mesti dilakukan? mau guling-guling di lapangan basket atau jungkir balik di kolam ikan? malu dong sama ikan yang lagi berendam.

Aku janji, aku akan sediakan waktu untuk menengok emak dan bapak dan melepaskan kerinduanku yang memuncak pada kampung halaman.

Akan kusemblih semua duri-duri yang menghalangi jalanku, kuhancurkan bongkahan batu hitam yang menghadang. Aku kikis habis sampah-sampah hati yang selama ini mengendap, agar cahayanya memuluskankan jalanku untuk mengobati kerinduan ini.

Selamat Hari Raya Idul Adha Emak...
Mudah-mudahan lebaran nanti Udin bisa menemui Emak dan Bapak di kampung.


Boulevard

By. Rieny

Menunggu seseorang yang tidak diketahui lagi rimbanya, sama saja seperti kita menunggu kereta lewat di halte bus. Ahh…..entah dimana cowok bersepeda itu sekarang.

I don’t know why.
You said goodbye
Just let me know you didn’t go forever my love
Please tell me why, you make me cry
I beg you please on my kness if that’s
what you want me to
Never knew that it would go so far...

Tembang Nostalgia Boulevard dari Dan Byrd yang sangat hits di eranya itu mengalun manis di bus yang kunaiki menuju tempat tugas pagi ini. Tembang itu menggiring anganku kembali ke masa lalu. Tanpa terasa ada rintik yang jatuh dari kelopak mataku yang mulai memerah. Aku larut menikmati bait demi bait liriknya.

“Udah ah, jangan cengeng gitu, ngga malu apa sama spion bus yang ngintip kamu dari tadi?” ujar sapu tangan bermotif setangkai Bunga mawar yang sudah mulai basah kejatuhan bulir-bulir rintik yang menetes.

“Ups maaf, aku terbawa suasana karna lagu ini.” Jawabku lirih sambil bergegas menyeka tetesan air mata yang masih mengalir di kedua pipiku seraya melirik ke kiri dank e kanan. Semua penumpang asyik dengan dunianya. Ada yang tidur, ada juga yang sibuk dengan gawainya. Syukurlah tidak ada yang memperhatikanku.

Boulevard terus mengalun merdu, dan aku pun semakin terseret ke masa itu. Masa saat aku masih berseragam putih dongker.

***
“Halo teman-teman, perkenalkan Aku Rani, putri pertama dari enam bersaudara. Cewek setengah pendiam yang ngga mau diam. Sapaku pada teman-teman di kelas baruku.

“setengah pendiam gimana maksudmu? Aneh-aneh saja kamu,”kemoceng kelas bertanya heran.

“aku itu dasarnya mempunyai sifat pendiam, tapi kalau aku ketemu dengan orang ceria, aku bisa heboh juga kayak mereka. Tapi kalau ketemu ama si pendiam juga, aku akan diam membisu.”

Hari-hariku disibukkan dengan kegiatan sekolah. Pergi pagi dan pulang petang. Aku mencemplungkan diri di beberapa kegiatan untuk melawan rasa tak PD yang selalu bergelayut manja. Aku mulai memberanikan diri tampil di depan kelas atau di depan forum kegiatan. Kusingkirkan rasa malu yang selama menghambat keberanianku dan memendam erat bakat dan potensi yang aku miliki.

“Hai Raniii…..Aktif banget nih di ekskul, apa kamu ngga lelah?” Belalang kecil yang sering mampir di lokal bertanya usil.
“Ngga lah, kenapa capek?” aku menjalaninya dengan riang gembira. Semua kegiatan menyenangkan bagiku. “ jawabku sambil melempar senyuman manis buat sihijau belalang.

***
Tepukan lembut di pundakku mengagetkanku dari lamuanan.
“Pagi-pagi udah ngelamun, mikirin apa hayooo….?” Temanku Janet bertanya usil.
“Ngga ada apa-apa Janet.”jawabku menghindar
“Matamu ngga bisa bohong Ran, kulihat di sana ada sesuatu yang kamu sembunyikan. Kalau kamu tak keberatan kamu bisa berbagi denganku”

“Ok deh, kita ke taman yuk…”ajakku sambil menggandeng tangan Janet menuju taman sekolah.

Di bangku taman yang asri dan semerbak oleh aroma bunga-bunga yang merekah aku mulai berkisah. Janet dengan sabar mendengarkan ceritaku dan sekali-sekali bertanya.
“Janet, seandainya waktu ini bisa dibalikin aku ingin balik ke masa lalu.”
“Apa..? kamu ngga lagi bercanda kan Ran? Kamu sehat?” Tanya Janet kaget mendengar pernyataanku tadi.
“Aku sehat Janet, sangat sehat…”jawabku

“Lalu kenapa ada pikiran seperti itu? Apakah kamu tidak berbahagia sekarang?ahh kamuu….kenapa jadi mellow begini? Kemana perginya Rani yang selama ini aku kenal? Rani yang selalu bersemangat dan tidak cengeng seperti ini.”

“Aku kangen masa lalu ku, ada sepenggal kisahku yang tercecer di sana dan aku ingin memungutnya kembali.”

“Masa itu menjadi bagian dari perjalanan kisah hidupku dan sebagai saksi keceriaan masa remajaku, masa penuh kenangan, masa yang memiliki harapan, walaupun ada satu harapan yang tidak pernah terwujud.”

“Harapan yang tidak terwujud?” Tanya Janet penasaran

“Ia….Harapan yang telah tenggelam. Tentang rasa suka yang dipendam, perasaan diam-diam yang tidak pernah terungkap. Sampai sekarang aku terus dihantui perasaan itu. Betapa tersiksanya aku sekian lama bergulat dengan perasaan yang tak menentu.”

“Bangun Ran, berhentilah bermimpi, tidak mungkin kita bisa memungut kembali apa yang sudah kita tinggalkan di masa lalu. Masa itu sudah lama berlalu. Jejaknya sudah tergilas oleh zaman dan waktu.” Janet memcoba memberi pengertian padaku.

“Tapi Janet….aku tidak bisa melupakannya. Bayangannya selalu hadir menari-nari di pelupuk mataku.

“Bolehkah aku tahu siapa dia yang telah membuatmu begini?”
“Dia, cowok bersepeda.”

“Cowok bersepeda?”

“Iya, dia yang telah mencuri hatiku. Sebingkai wajah yang aku simpan selama ini.”

“Apabila kuingat lagi sosok itu, dadaku terasa sesak . Aku sesali kebodohanku dengan membiarkan dia pergi saat itu dengan membawa sepotong hatiku tanpa dia sadari, Dia pergi, berlalu begitu saja meninggalkanku dan tidak pernah kembali lagi hingga saat ini.”

“Hmm….”

“Menurut orang lain, aku mungkin berlebihan, lebay atau apalah namanya atau menganggapku terlalu bodoh menyimpan rasa sedalam itu kepada orang yang tidak diketahui lagi rimbanya, dan tidak wajar betah menunggu bertahun-tahun lamanya, walau tidak ada sedikitpun secercah harapan yang kuketahui tentang keberadaannya.”

“Pendapatku juga begitu Ran, kamu terlalu larut dengan perasaan masa lalu. Bagaiman pun juga sekarang zaman sudah berubah, dia pun entah di mana sekarang."

"Dia belum tentu juga ingat denganmu. Buat apa kamu masih saja menyimpan rasa itu? lupakan dia dan buka matamu untuk menikmati keadaan sekarang.”

“Aku ngga bisa Janet, sangat susah bagiku untuk melupakannya.”

“Kamu bisa, asal kamu mau.”

“Arhhhh……”

"Kalau kamu mau bahagia, bergegaslah bangkit dari tidurmu. Tinggalkan masa lalu. Nikmati hari ini, dan hiduplah pada hari ini."ujar Janet tegas

Serasa berada di persimpangan, apa yang harus aku lakukan?





LARA

By. Rieny


Pyarr….!
Pyarr….!
Pyarr….!


Gelas yang ada ditanganku jatuh dan pecah berderai di lantai. Bagaikan disambar petir di siang hari, aku kaget setengah mati mendapatkan tamparan yang sangat keras ini.


Pipiku langsung memerah, terbakar membara dan terasa sangat panas. Semakin panas karena bercampur oleh cairan yang mengalir deras oleh luapan netraku yang jebol tak terbendung. Kurasakan kesedihan yang amat dalam, dada ini begitu sesak menahan beban yang kuat menghantam.


Seluruh persendianku terasa mau rontok, tenagaku lenyap. Tubuhku tak berdaya. Apa yang aku takutkan ternyata terjadi juga. Nyanyian kata itu mampu membuatnya berubah menjadi macan yang siap menerkam dan sukses memporak porandakan kepercayaan yang pernah ada.


Lembaran-lembaran kepercayaan yang telah lama kita rajut, seketika benangnnya putus satu persatu. Untaiannya menjadi kusut, berserakan dan terburai kemana-mana.


“Siapa dia?” tanyamu seraya menatapku dengan pandangan yang tajam. Matamu memerah semerah cabe tetangga sebelah yang baru saja di panen pagi ini.


Aku hanya bisa terdiam, tak berkutik dan tak berani memandang rupamu yang semakin mengganas.


“Helena…jawaaab….kamu tidak bisukan?” suaramu semakin menggelegar menggetarkan semua perabot yang ada di ruangan tamu. Aku semakin berinsut dan tersandar di pojok ruangan . Tubuhku gemetar dan semakin takut oleh terkaman kata-katamu yang tak terkendali.


Plak…..


Tamparan itu mendarat lagi di pipiku yang sudah terbakar oleh panasnya lontaran amarah dan cacianmu yang terus menghujaniku. Aku tak mampu berkata dan membela diri. Nyaliku terkalahkan oleh beringasnya hasutan setan yang bersarang dengan congkaknya di jiwamu yang kusut.


“Dasar perempuan tak tahu diri, enyahlah dari hadapanku !” umpatan itu terus saja dan menusuk tajam.

Aku hanya bisa menjerit tak bersuara, dan dengan isak yang tertahan. Teriakanku yang keras bisa membuatnya semakin garang membabi buta. Kutahan perih yang bertahta di atas lukaku yang semakin menganga.


Empat baris pesan singkat itu adalah awal petaka. Petaka yang yang menguntai lara. Lara dan air mata.



Jumat, 12 Juli 2019

Rindu yang terabaikan


By : Rieny


Waktu kuletakkan sepotong rindu di depanmu, engkau mengelak dan mengantinya dengan empedu. Apakah aku mesti tergugu?

**********
Prang…

Terdengar suara piring pecah dari ruang makan, hingga mengagetkan aku yang sedang menggendong bayi cantikku Raisya. Dari pagi Raisya rewel terus karena tubuhnya agak panas.

“Istri macam apa kamu…! masak saja tidak becus….asin begini, puiih…kedengaran suara mas Hendra memaki sambil melemparkan piring berisi nasi yang baru saja sesendok di makannya. Setelah piring berderai dan makanan berhamburan dengan sinisnya dia ludahi makanan itu.

Kutidurkan Raisya di tempat tidur dan bergegas ke ruang makan. Mas Hendra memadangku dengan penuh amarah. Matanya memerah dan melotot ke arahku seperti mau melahapku bulat-bulat.

“Ada apa mas? Kenapa makanannya kamu lempar?”tanyaku sambil menahan hati yang mulai perih dan jantung bergemuruh.

“Masakan asin begini kamu suguhkan untukku, kamu benar-benar istri yang tidak bergunaaaa….!” teriak mas Hendra sambil berlalu meninggalkanku sendri yang terpaku di sudut ruang makan.

Mas Hendra baru saja pulang setelah seminggu meninggalkan rumah. Dia memang suka pergi sesukanya. Pergi begitu saja meninggalkanku dan Raisya tanpa beban.

Perjodohan itu membuatnya sangat membenciku. Sampai saat ini dia belum bisa menerima keberadaanku sebagai istrinya. Apa yang aku lakukan selalu salah di matanya.

“Aku tidak mencintaimu, jadi jangan harap aku akan memperlakukanmu dengan baik.”katanya datar saat aku tanya kenapa sikapnya seperti itu padaku.

“Tapi, aku mencintaimu Mas,” jawabku polos dengan sedikit hati-hati.

“Persetan dengan cintamu, aku tidak butuh. Carilah pria lain yang bisa menampungnya.“ jawabnya tanpa perasaan. Tidak mempedulikan rasa cinta dan rinduku yang telah aku ukir untuknya.

“Kamu boleh tidak mencintaiku mas, tapi bagaimana dengan Raisya? Kenapa kamu juga membencinya? Dia anak kita mas..darah dagingmu…!” tidak bisa kutahan air mata ini. bulirnnya jatuh menggenang di kedua pipiku.


“Itu anakmu, bukan anakku. Urus saja sendiri, jangan libatkan aku untuk merawatnya. Dan jangan kamu ajari dia untuk memanggilku bapak.”


Mas Hendra memang tidak sayang pada Raisya. Sejak lahir hingg saat ini Raisya sudah berusia empat bulan, belum pernah dia menggendong putrinya itu. Hatinya sudah buta, diselimuti oleh api kebencian.

Belum dua jam dia berada di rumah, sekarang dia sudah pergi lagi meninggalkan hati yang tergores, Goresan yang semakin tajam menusuk ulu hati dan menikam jantung.

Rindu bukanlah duit receh yang bisa kita bagi – bagi ke mana kita suka. Rindu memilih siapa yang dia tuju, ke hati mana dia hendak bergelayut.

Jika rindunya terabaikan, hatinya tersayat sembilu, jeritannya bisa mengoyak kalbu. Perasaanpun serasa tercabik-cabik, inikah yang namanya pilu?

Kutabahkan hati dan tak berhenti berharap. Semoga ada cahaya yang menggiringnya untuk kembali


Rabu, 10 Juli 2019

Tempat Tinggal Buat Bapak

BY : Arieny




Di saat raga ini sudah semakin renta, dan tak kuasa lagi mengurus diri sendiri, kemanakah akan bergantung?

Rapat keluarga harus segera digelar. Secepatnya harus ada keputusan Bapak akan menetap di mana. Tidak mungkin lagi hanya diserahkan pada tetangga buat mengurus bapak. Apakah bapak akan tinggal di rumah kakakku Anita di kota, di rumahku yang sederhana atau di kediaman si bungsu Randi.

[Maaf dek, aku agak telat sampainya, tadi ada meeting di kantor], pesan singkat dari kak Anita mendarat di gawaiku.

[ iya kak ]

balasanku sangat singkat. Aku kecewa kak Anita selalu berdalih meeting dan kerja. Tak ada waktunya buat menemui bapak.

Kupandangi Bapak dengan tatapan pilu, dan hati yang perih melihat derita beliau yang meringis menahan sakit.

"Bapak mau makan? Tanyaku sambil memijit tangan bapak. Tangan yang lemah dan mulai mengecil. Hanya tinggal kulit pembalut tulang.

Bapak menggeleng, memberi isyarat bahwa beliau belum berminat untuk makan.

"Dari pagi Bapak belum makan, makan sedikit ya Pak." bujukku.

Bapak masih menggeleng, bapak tak mampu bersuara, karena penyakit ini juga telah merampas suara bapak.

"Kalau gitu minum saja ya Pak?" Bapak tidak menggeleng, pun tidak mengangguk. Aku mendekatkan gelas berisi air putih ke bibir bapak. Bapak menyeruputnya pelan dengan menggunakan pipet.

Sudah dua bulan Bapak terbaring tak berdaya di bilik 3 x 3 m ini. Penyakit stroke yang sudah diderita bapak setahun belakangan ini semakin membuat tubuhnya kian hari semakin lemah. Bapak tidak bisa lagi melakukan aktifitas apapun, walaupun hanya untuk sekedar membuang hajat ke kamar mandi. Semuanya dilakukan di tempat tidur.

Kring...kring...kring...

Adikku Randi menelpon

[Kak Mita, kayaknya aku batal deh pulangnya hari ini. Karyawanku lagi pulang kampung, tidak ada yang nungguin toko], kedengaran suara Randi dari seberang.

Sirna lagi harapanku untuk bisa berkumpul dengan saudara-saudaraku hari ini di rumah bapak. Kerinduan bapak yang memuncak belum juga bisa terobati malam ini.

Randi juga sangat disibukkan dengan usahanya. Dua toko grosir pakaian anak-anak yang dirintisnya dari nol sekarang lagi maju-majunya. Tak ada jeda untuk pulang kampung walaupun sebentar saja, mengobati kerinduan bapak.

Di kampung bapak tinggal sendiri. Ibu sudah menghadap Illahi dua tahun yang lalu. Sejak ditinggalkan ibu, ayah sering melamun dan mulai sakit-sakitan. Puncaknya tahun yang lalu ayah jatuh di kamar mandi. Stroke itu mulai mengegrogoti tubuh bapak.

Sebenarnya tahun lalu, sejak tahu bapak sakit aku sudah pulang menengok bapak dan mengajak bapak untuk tinggal bersamaku di desa lain. Butuh waktu sekitar empat jam perjalanan dari rumah bapak ke tempat tinggalku.

Bapak menolak ikut bersamaku, beliau tidak mau meninggalkan rumah ini. Bagaimanapun keadaannya beliau bertahan di desa ini.

"Rumah ini adalah rumah yang bapak bangun bersama almarhumah ibumu. Banyak kenangan yang terukir. Pahit dan manisnya perjuangan hidup kami lalui di sini." Jawab bapak saat aku bujuk untuk tinggal bersamaku.

Saat itu bapak masih bisa berbicara, walau agak terbata-bata.

"Tidak mudah bagi bapak meninggalkan tempat yang penuh kenangan ini. Berada di sini, Bapak seolah merasakan kehadiran ibumu di samping bapak."

Bapak orangnya tegar dan sabar, tapi kalau sudah membicarakan almarhumah ibu, mata bapak langsung memerah dan ada rintik yang jatuh satu persatu, tak bisa ditahan.

"Ayolah Pak...tidak mungkin kami tega meninggalkan Bapak sendiri di sini dalam keadaan sakit begini. Kami takut terjadi sesuatu sama Bapak."

Bapak bersikukuh dengan pendiriannya dan tak bisa ditawar lagi.

Sejak itu bapak tinggal sendiri. Untuk keperluan sehari-hari bapak banyak dibantu tetangga. Aku tidak bisa menemani bapak tinggal di kampung karena tugas sebagai guru sekolah dasar tidak bisa aku tinggalkan di desa lain.

Sekali dua bulan aku sempatkan datang menjenguk bapak dan melengkapi semua kebutuhan bapak.

Kak anita dan Randi tak pernah muncul sejak bapak sakit.

"Maaf dek, aku tak bisa pulang. Aku sangat sibuk dengan urusan kantor. Kalau kamu tak bisa menemani bapak, kamu bisa gaji suster untuk merawat bapak atau titipkan saja bapak di panti jompo, berapa biayanya nanti aku kirim] ujar kak Anita saat aku kabari bapak sakit."

"Tega sekali kamu kak."jawabku lirih.

"Bukan duitmu yang diharapkan bapak. Tapi kasih sayang dan perhatian dari anak-anaknya yang dia butuhkan saat ini."

Bibirku bergetar. Dadaku serasa sesak, ada tangis yang tertahan, tak ku sangka kakakku yang cantik dan berpendidikan berpikiran sepicik itu. Mau menitipkan bapak kandungnya ke panti jompo.

Randi putra bungsu kesayangan bapak juga selalu larut dengan pekerjaannya. Tidak ada waktu baginya untuk menelpon menanyakan kabar bapak.

Sekarang keadaan bapak semakin melemah. Tidak enak rasanya mengharapkan bantuan tetangga terus, walaupun mereka ikhlas begantian menemani bapak,

Sungguh beruntung memiliki tetangga yang baik hati dan peduli.

Melihat keadaan bapak seperti itu, aku kembali menghubungi kedua saudaraku itu. Bapak harus ikut salah seorang di antara kami.

Tapi hingga detik ini mereka berdua belum muncul di rumah bapak dengan alasan masih ada kesibukan.

Kutatap dalam - dalam wajah bapak. Ada kerinduan di matanya. Rindu pada almarhumah ibu dan kepada kami anak-anaknya.

Kring...kring...kring

Gawaiku kembali berdering tepat pukul 12 malam.

"Dek, gimana keadaan bapak? aku besok pagi jadinya berangkat." Terdengar suara kak Anita

"Belum ada perkembangan kak, bapak masih sangat lemah dan nafasnya agak sesak." Jawabku

Besoknya sekitar pukul satu siang kak Anita datang beriringan dengan Randi. Mereka janjian di batas kota dan bareng ke sini.

"Syukurlah, akhirnya kalian berdua bisa pulang. Bapak sudah sangat merindukan kak Anita dan kamu Rand."

"Iya dek, tapi aku tak bisa lama-lama di sini. Besok pagi aku mesti balik ke kota. Ada kunjungan ke luar negeri menemui mitra kerjaku yang ada di sana." jawab kak Anita datar.

"Aku juga, karyawanku masih di kampung. Aku mesti buru-buru balik lagi." Randi juga bersuara.

Perkataan mereka berdua membuatku bertambah sedih, hatiku perih bagai tersayat sembilu. Baru saja nyampe di rumah mereka sudah membicarakan untuk balik.

Kulihat ada genangan bulir-bulir air membasahi pipi bapak yang keriput. Air mata bapak tak bisa ditahan ketika kak Anita dan Randi muncul di kamar bapak.

Walau tak terucapkan, aku tahu dari tatapan matanya bapak sangat gembira dan terharu. Kerinduannya yang dipendam terobati hari ini.

"Kak Nita, Randi...keadaan bapak sudah bertambah parah, tidak mungkin kita biarkan bapak sendiri di sini," kataku membuka kata di saat pertemuan kami bertiga di ruang tamu.

"Terus....?" jawab kak Anita sambil memainkan gawainya.

"Aku ingin bapak tinggal bersama salah seorang dari kita."

"Bapak ikut kamu saja ya, aku sibuk banget." Jawab kak Anita tanpa menghentikan jemarinya yg terus menyentuh gawai membalas wa rekan kerjanya.

"Tidak mungkin juga ikut denganku, istriku orangnya tidak sabaran. Nanti tidak betah dia ngurus bapak." Randi menimpali mencari alasan.

Aku menarik nafas panjang. Ada yang mengganjal di dada ini. Kakak dan adikku telah berubah. Pekerjaan dan kekayaan telah memadamkan api cintanya pada orang tuanya. Dia lupa bagaimana Bapak dan ibu dulu membesarkannya dengan penuh cinta.

Sore telah berganti dengan senja. Kak Anita dan Randi mau balik ke kota. Saat mau pamit sama bapak, kulihat bapak tidur nyenyak sekali. Ada foto almarhumah ibu dalam dekapannya. Sewaktu aku hampiri nadinya tak berdenyut lagi.

Innalillahi wainnailaihi raajiuun

Bapak sudah berpulang ke pangkuan Illahi. Bapak tidak akan tinggal bersama salah seorang dari kami, tapi memilih ikut bersama ibu.

Aku terduduk lemas di samping bapak yang membujur kaku.

Bapaaaaaakkkk.....ada jerit yang tertahan dari mulut kak Anita dan adikku Randi. Ada penyesalan yang dalam. Tapi semua sudah terjadi. Bapak sudah pergi dan tak kembali lagi.

Kaki dan Aksara

By : Arieny







Banyak jalan yang terbentang untuk meraih tujuan. Jalan mana yang hendak kau pilih?

Di saat malam mulai kelam. Hitam legam dan mencekam, Aku terdiam menahan beban yang tertahan.

Engkau datang tepat di sepertiga malam, ketika aku baru saja menyelesaikan sujud terakhir solat malam di atas sajadah panjang ini.

Engkau datang sesuai dengan janjimu waktu itu.

Katamu, "Aku akan terus melihatmu berjalan dan berlari dalam kehidupanmu. Saat engkau tertawa dan gembira aku akan ikut tersenyum dari kejauhan, merasakan kegembiraaan seperti yang engkau rasakan. Jika engkau tersungkur terjatuh, aku akan datang membantu berdiri serta mengobati lukamu agar bisa berjalan dan berlari lagi."

Hmmm... terharu dan senangnya hatiku mendengar kata-katamu sobat...

Sekarang engkau datang membelah malam di tengah kesunyian yang mencekik. Engkau datang sendiri tanpa ditemani rembulan dan bintang gemintang. Tidak ada juga keriuhan suara jengkrik yang mengiringi langkahmu.

Belum sempurna simpuhmu engkau tanyakan kabar kakiku.

“Apa warna kakimu?”

Aku tersenyum menyambut kedatanganmu dan menjawab pertanyaanmu dengan sedikit tersipu malu

"Kakiku berwarna putih bersih, seputih kelinci imut yang lincah melompat kian kemari, menari-nari dengan riang gembira.”

Spontan engkau memandang kakiku yang dibalut oleh kaus kaki berwarna putih...

Opss...untung saja aku pake kaus kaki, kalau enggak dia akan melihat kalau ternyata kakiku rada-rada coklàt kehitaman. Heheh...jadi malu.

Dia terdiam sejenak, kemudian bertanya lagi.

“Mengapa kamu masih punya kaki sampai saat ini?”

Aku ambil nafas sejenak dan menjawab dengan penuh keyakinan.

“Suatu nikmat dari Allah swt yang tidak terkira, masih mengizinknkanku menikmati langkah ini dengan sepasang kaki pemberianNYa.”

“ Lalu bagaimana caramu menyedekahkan kaki?”

“Terus aku ayunkan sepasang kaki ini dengan nada-nada yang indah, menapaki tangga-tangga kebaikan dan menebarkan virus cinta kepada setiap insan yang membutuhkan."

"Membawanya pergi dengan mengikuti panggilan hati. Hati yang menuntunnya untuk senantiasa berpijak pada tempat yang lurus. Walau cobaan silih berganti dan ada duri di setiap tanjakan, namun kaki ini tak akan berhenti dan terus melangkah.”

"Heyy...aku haus nih, kamu ngga kasih sobatmu ini minum?" Katamu sambil menatapku penuh harap.

"Duh maafkan aku sobat, kedatanganmu membuatku bahagia, hingga lupa menyuguhkanmu segelas kopi pahit kesukaanmu."

Setelah menyeruput setengah gelas kopi engkau bertanya lagi.

“Berapa sebenarnya harga kakimu?”

“Sobatku sayang, jangan coba-coba menawar kakiku, percuma saja karena tak ada hasratku untuk melepasnya walaup engkau tebus dengan harga selangit sekalipun."

"Seandainya kakiku ini mau ditukar dengan berlianmu aku juga tak akan bergeming, karena dengan sepasang kaki ini inginku jelajahi persada yang luas ini untuk menemukan berlianku."

"Sejatinya kakiku ini sangatlah berharga untuk kehidupanku."

"Ya ngga lab sob, aku tak akan membeli kaki cantikmu itu, karena hartaku tak cukup untuk membayarnya."

“ Oh ya, Sob, aku pengin tahu nih, apa saja hal terindah yang telah dilakukan kakimu?”

"Dengar baik-baik yan Sob, semenjak kaki ini bisa melangkah sudah banyak jejak kenangan yang diukir. Berjalan dan berlari bersama orang-orang terkasih.”

“Masih segar dalam ingatan, bagaimana dulu ayah dan ibu memijiti kaki ini dengan dengan penuh cinta kasih, disaat aku jatuh dan kesandung dalam perjalananku mengasah kemampuan berjalan dan berlari.”

“Pelan namun pasti langkah kaki ini telah menuntunku menelusuri aliran ilmu dan mengisi relung jiwaku dengan tetesan penyiram kalbu.“

"Aku bisa menggapai cita dan cinta dengan langkah ini walau tertatih dan menuangkanya lagi kepada setiap gelas kosong yang haus dan butuh serpihan pengabdian tulus ikhlasku.”

"Langkah ini juga telah membawaku menikmati pancarona alam dan mensyukuri segala keindahannya.”

“Tak terhitung lagi berapa keindahan yang telah tersemaikan oleh ayunan langkah ini.”

"Iya Sob, aku juga tahu bagaimana kakimu selalu mengantarkanmu ke tempat pengabdian dengan penuh kesabaran dan tanpa kenal lelah. Kadang juga setia mengantarkanmu ke suatu acara di kala ada job ngemsi yang menghampiri."

"Jadi, berbahagialah sobatku... usir kesedihanmu. Nikmati dan syukuri atas semua karunia yang engkau terima selama ini. Kadang dalam melangkah rasa lelah mengusik dan membuat langkah menjadi tersendat. Tapi aku yakin kamu bisa melewatinya dengan hati yang lapang, aku juga yakin dan percaya kamu bisa menentukan ke arah mana kakimu mau dilangkahkan. "

Dinginnya malam mau berganti dengan sejuknya sang fajar. Engkaupun bersiap-siap pergi meninggalkanku. Namun sebelum melangkah engkau bertanya lagi.

“Apa hubungan kakimu dengan menulis?”

“Beserta jemari yang meliuk dan menari-nari akan kuajak serta kaki ini berdansa. Melangkah ke kiri dan ke kanan, berputar-putar mengiringi suara alam. Menuangkan suara hati dan melukiskannya dengan bahasa cinta.”

“Tak bosan terus kurangkai aksaraku dan dengan kaki ini kubawa mengitari awan biru dan di sana akan kusedekahkan tulisanku kepada bintang-bintang yang setia memancarkan cahayanya saat langkahku buntu tak tampak jalan."

"Terima kasih sobatku. Pembicaraan malam ini sangat menyenangkan hatiku. Maafkan aku ya yang sudah mengusik istirahatmu."

Sebelum aku menjawab dia sudah berlari dan menghilang ditelan kegelalapan."

"Iaa Sobaaaaat......terima kasih juga ya atas hadirmu dalam kehidupanku.!"

Aku tak tahu, apakah dia mendengar teriakanku. Semoga ada burung gereja yang mendengar dan menyampaikan padanya.

Sewaktu aku mau menutup pintu ada sobekan kertas yang ditempel di baliknya, ternyata sahabatku meninggalkan coretan di sana.

" Hati-hatilah melangkah, tergelincir sedikit masa depanmu akan suram dan engkau akan terpuruk pada penyesalan yang panjang."

Jumat, 14 Juni 2019

Cendra Mata buat Ramadhan

Penyesalan memang datangnya terlambat, apa gunanya ditangisi?

Pyarr...!!!
Suara kaleng yang jatuh mengangetkanku. Membuat aku terjaga dari tidurku yang lelap. Aku tersentak dan memandangi sekeliling kamarku yang berwarna putih dengan mata yang masih berat menahan kantuk yang masih tesisa.

Aku masih saja terpana dan belum beranjak dari peraduan, terduduk dengan pikiran yang menerawang. Berputar-putar berselancar mengelilingi dunia imajinasi, namun tak tahu apa yang kutuju. Aku seperti orang linglung yang kehilangan kecerdasan berfikir.

Mataku terus menyapu isi kamar, namun sosok yang kucari tak juga ditemukan. Aku buka lemari dan membongkar seluruh isinya. Sosok itu tidak ada juga. Kualihkan mata ke bawah tempat tidur dan menyigi satu persatu benda-benda yang ada di bawahnya. Masih nihil, tak ada siapa-siapa di sana.

Bergegas kuraih tas tangan merah maron yang sering menemaniku berpergian dan membongkar dompet kulitku yang berwarna coklat muda...hahhh masih sia-sia....tidak kutemukan apa-apa.

Hatiku hampa dan semakin bergemuruh, gejolak dadaku kian membuncah...menyentak-nyentak tak bisa kuredam.

“Kenapa aku tidak melihatnya lagi?”

“Kemana perginya Ramadhan?” tanyaku pada mata, tapi mata hanya membisu.

Kutanyakan pada telinga, mana tau dia mendengar langkah kaki Ramadhan menuju kemana. Namun aku tidak mendapatkan jawaban. Telinga menggeleng tidak tahu apa-apa.

Kutanya pada kedua tangan ini, pada tubuh yang lemah ini, pada kedua kaki, pada rambut yang mulai memutih....tetapi semua diam terpaku.

”Kemana Ramadhanku?”, teriakku lebih keras, mengejutkan pajangan yang tersusun rapi di dinding kamarku yang mungil.

Lalu, dengan penuh harap aku tanya pada hati, “Duhai hati, apakah kamu melihat Ramadhan?”, Hati menatapku dengan penuh kelembutan dan berusaha menenangkanku yang sedang galau karena sangat kehilangan.

“Ramadhan sudah berlalu, dia sudah pergi dan meninggalkan kita”, jawab hati berbisik lirih.

“Kamu sedang tertidur lelap saat dia pergi, barangkali kamu sedang asyik bercengkrama dengan impianmu. Indahnya warna-warni kehidupan telah membuat kamu lengah. Kamu terlalu asyik dan menikmati duniamu, dan kamu mengabaikan hadirnya Ramadhan di sampingmu. Dia kecewa dan sangat bersedih melihat sikapmu yang tidak peduli”, hati menguraikan lebih lanjut

“Hahhh....apa? Ramadhan sudah pergi?”

“Kenapa dia begitu cepat pergi meninggalkanku?. Belum banyak yang bisa aku perbuat untuk menyemarakkan hatinya”. Gumamku tertahan.

“Kenapa aku bisa ketiduran?”, Aku terduduk lemas dengan penyesalan yang amat dalam.
“Aku belum sempat memberikan cendra mata terindah buatnya”. Suaraku semakin lirih bergumam.
Dadaku terasa sesak. Mataku berkaca-kaca, tanpa terasa bulir-bulir yang jatuh telah menganaksungai menggenangi kedua pipiku.

Hingga aku tersungkur di depan sajadah. Dengan deraian air mata yang membanjiri sajadah, aku bersujud memohon ampun kepada Allah SWT, atas semua kelalaian yang meninabobokkan serta semua salah dan khilaf yang sering meggelitik nurani. Aku salah, aku terlena dibuai oleh kenyamanan sesaat.

AKU TERSENTAK....!!!!

Ternyata aku telah kehilangan Ramadhan.
Aku sangat menyesal, kenapa membiarkan Ramadhan berlalu tanpa arti?

Thaipeh, Syawal 1440 H



Senin, 03 Juni 2019

GELANG MENENDANG LAPTOP

Ketika hati terabaikan, bagaimana caranya membasuh luka?

Malam semakin legam, hawa dingin semakin menusuk dan menjalar ke pori-pori.

Krincing...
Krincing...
Krincing...

Kudengar suara gemerincing gelang manik kristal berwarna putih yang duduk bersimpuh di pojok ruang kamar suara lirihnya  menyapaku dengan manja. 

"Sudah malam upik, istirahatlah!"

"Ia bentar dikit lagi, ada tugas dari Coach yang mesti kuselesaikan malam ini," Jawabku sambil terus mengetik  tanpa menoleh ke gelang manik.

Suara gemerincingnya seolah memberiku isyarat untuk berhenti memainkan keyboard laptop. Dari tadi aku tidak beranjak dari depan laptop. Ditemani tembang She's Gone dari Steelheart membuatku betah berlama-lama menekan tuts-tups keyboard merangkai kata demi kata menumpahkan suara hati.

Yach....selarut ini aku masih bercengkrama dengan benda empat persegi 16 inch berwarna silver yang selalu setia menemaniku, di saat suka maupun duka. Padanya kutumpuhkan semua keresahan yang sering berkecamuk dan kegalauan yang mengusik. Untuk sekedar menghibur diri dan melepaskan sedikit beban yang mengobrak-abrik keceriaan.

Krincing...
Krincing...
Krincing...

Gelang manik kembali menyapaku, namun suaranya semakin lirih, nyaris tidak tetdengar.

"Ayolah Upik, berhentilah meliuk- meliukan jemarimu, nanti kamu sakit."

Aku berhenti sejenak dari aktifitasku dan beranjak mendekati gelang manik yang sudah terduduk lesu. Dia menatapku dengan cemberut. Matanya tajam seperti mau melahapku.

"Ia, bentar lagi aku istirahat, kamu duluan ya."
"Maafkan aku ya, belakangan ini, aku jarang bermain denganmu, "kataku seraya mengelus gelang manik dengan kasih sayang.

"Iya.....!"
"Kamu mengabaikan aku, kamu lebih mempedulikan benda persegi itu dibanding aku..."Jawab gelang manik sedikit keras seraya memandang laptop dengan tatapan sinis.

"Kamu selalu bersama dia, tak peduli lagi padaku."

"Aku tak pernah lagi di ajak jalan-jalan."

"Aku juga tak pernah lagi melingkari tangan mungilmu dan menemanimu ke pesta."

Gelang manik terus nyerocos seperti kran air yang dibuka sumbatnya. Bobol dan tak bisa disumpal.

Aku merasa ditampar dengan lontaran katanya.

Apakah benar aku sekejam itu pada gelang manik pemberian sahabatku itu?

Benarkah aku mengabaikannya?

Belakangan ini aku sedikit sibuk dengan tugas-tugas kantor dan ditambah lagi dengan pekerjaan rumah yang diberikan coach. Jadi memang lebih banyak bersenda gurau dengan laptop.

Supaya lebih fokus dan enak bekerja, aku membuka gelang manikku dan menaruhnya di rak buku. 

Ternyata hal itu membuat sedih gelang manik dan membuatnya marah pada laptop yang banyak menyita waktuku.

"Ini hanya masalah waktu saja kataku, bersabarlah, jangan cemberut gitu, sebentar lagi mau lebaran, wajah cantikmu akan kembali melingkar manis di pergelangan tanganku.

"Kamu janji?" Wajah gelang manik mulai berubah. Wajah yang tadi kuyu dan lemas kembali berseri.

"Iya, aku janji tidak akan mengabaikan kamu lagi, "Jawabku dengan lembut.

"Sekarang tidurlah, pejamkan mata,  dan tersenyumlah dalam impian."

Gelang manikpun tersenyum dan membisikkan selamat malam pada laptop  yang sedari tafi terpaku mendengar ocehan gelang manik.

Tiada kebahagian yang terindah selain membuat orang-orang di sekitar kita berbahagia. Kebahagian mana lagi yang kita cari?

#Thaipeh, 2 Juni 2019



Rabu, 13 Maret 2019

Bodrek Cinta


S
eperti biasa pukul enam pagi aku sudah siap-siap berangkat ke sekolah dengan sarapan secangkir teh manis dan dua potong biskuit untuk mengganjal perut ini hingga siang nanti.
     Pukul enam lewat sepuluh menit aku sudah berada di bus yang akan membawaku ke tempat tugas. Lagi-lagi menumpang bus dimanjakan dengan tembang-tembang manis yang diputar oleh sopir bus. Penumpang terhanyut dalam lamunan dan tenggelam dalam kenangannya masing-masing menikmati sweet memories love song yang mengalun manis menemani perjalanan pagi ini.
       Argh....bayangan itu kembali hadir, sosok berkaca mata itu selalu datang dalam kesendirianku. Kenapa begitu sulitnya move on dari semua kenangan yang berhubungan dengannya? Aku sudah berusaha untuk melupakan semua kenangan tentangnya, tetapi mengapa seakan ada magnet yang menarik bayangannya dan membawanya ke fikiranku.
     Sampai di sekolah, aku berusaha untuk fokus ke tugasku. Aku singkirkan semua kegalauan hati ini. Aku buang semua beban yang berkecamuk. Aku tidak mau kelihatan lemah dan harus selalu bersemangat dalam melaksanakan tugas. Mengesampingkan semua masalahku termasuk menghilangkan dulu bayangan Andika dari fikiranku.
     Pagi ini jadwal pertamaku di lokal X. 2. Kebetulan aku wali kelas lokal ini.
     “Assalamualaikum!”
     “Waalaikum Salam Bu!” jawab anak-anak serempak.
    “Aku tersenyum sambil memandangi wajah mereka satu persatu.
     “Pa kabar pagi ini Ananda?”
     “Alhamdulillah baik Bu...”
“Alhamdulillah, semoga slalu sehat ya biar PBM nya ngga terganggu. Jaga kesehatan dengan istirahat yang cukup, makan dan olah raga yang teratur” jelasku lebih lanjut.
 “Baik Bu...” mereka menjawab serempak.
      “Udah sarapan tadi?” tanyaku lagi
       Hanya beberapa orang siswa yang menjawab sudah dan yang lainya belum sarapan pagi ini.
      “Usahakanlah selalu sarapan sebelum berangkat ya Ananda, supaya kamu bisa fokus mendengarkan pelajaran yang disampaikan oleh Bapak dan Ibu guru!”
      Mereka mengangguk, seolah paham apa yang aku katakan, tetapi kenyataannya setiap hari ada saja yang tidak sarapan dengan berbagai alasan.
     Menanyakan kabar mereka sudah menjadi kebiasaanku sebelum memulai menerangkan pelajaran. Karena menurutku kedekatan hati dengan siswa itu yang pertama yang harus kita lakukan. Kalau kita sudah dekat dan memahami karakter mereka masing-masing. Kita akan mudah menggiring mereka untuk fokus mendengarkan materi apa yang akan kita sampaikan.
      Kembali aku perhatikan satu persatu wajah mereka, dan mataku berhenti menatap sosok bertubuh tegar yang duduk sendiri di bangku bagian belakang. Wajahnya pucat, matanya merah dan pandangannya kelihatan sayu. Siswa itu bernama Candra Winata, panggilannya Candra. Candra adalah siswa yang aktif pada kegiatan sekolah, dia termasuk siswa yang berprestasi pada kegiatan Ekstrakurikuler Passusbra. Tetapi nilai prestasi belajarnya biasa-biasa saja. Anaknya pintar bergaul, luwes dan selalu ceria.
      Sudah beberapa hari ini aku lihat Candra berbeda dari dari hari-hari biasanya, dia jadi pendiam sekarang, sepertinya  ada beban yang sangat berat yang dia fikirkan. Dia banyak melamun di kelas dan agak suka menyendiri, tidak mau bergabung dengan teman-temannya saat bermain di jam istirahat.
      Pagi ini kulihat Candra banyak menundukkan wajahnya dan sejak aku masuk tadi tidak terdengar suara Candra. Biasanya dia selalu bersemangat menjawab setiap pertanyaanku. Aku beranjak dari tempat duduk dan berjalan ke belakang menghampiri Candra.
“Candra, kamu lagi sakit ya...”tanyaku sambil meletakkan telapak tangan di kening Candra. Ya Allah....panas sekali suhu tubuh Candra.
      Candra  hanya diam, tidak menjawab pertanyaanku. Kulihat dia merasa sangat kedinginan, wajahnya tampak semakin pucat.
      “Kamu istirahat di ruangan UKS saja ya Can...”
      “Ngga usah Bu, Candra di sini saja, Candra ngga apa-apa Bu...” jawab Candra.
      “Ngga apa-apa gimana? Tubuhmu panas sekali Candra...! Yuuk kita ke ruangan  UKS, kamu minum obat dan bisa istirahat di ruangan UKS....” ajakku sedikit memaksa.
     Akhirnya Candra mematuhi apa yang aku katakan dan perlahan bangkit dari tempat duduknya dan dengan sedikit tertatih berjalan menuju ruangan UKS. Candra beristirahat sampai jam terakhir di ruangan UKS dan dia diantar pulang oleh Yogi teman selokalnya. Rumah Candra tidak terlalu jauh dari sekolah.
     Besok siangnya sekitar pukul 10.00 WIB saat aku lagi membimbing siswa praktek di labor tiba-tiba aku dikejutkan oleh gedoran pintu labor. Setelah dibuka terlihat dua orang siswi cantik  Naila dan Inneke. Wajah mereka berdua kelihatan sangat cemas. Dengan sedikit gugup dan nafas yang masih tersengal karena berlari dari lokal ke labor. Mereka menyampaikan kabar tentang Candra.
     “Candra pingsan Bu, dia jatuh di kelas barusan!” Kata Naila.
     “Candranya dimana sekarang Nai?” tanyaku dengan wajah yang masih kaget mendengar berita ini.
     “Masih di lokal Bu....”
      Bersama Naila dan Inneke aku bergegas menuju lokal X.2. Kulihat Candra tergeletak di lantai, wajahnya sangat pucat dan suhu tubuhnya lebih panas dari yang kemarin.
      “Anak-anak.... kita bawa Candra ke ruangan UKS ya..!” seruku.
      Bersama beberapa orang siswa aku mengangkat tubuh Candra ke tandu dan membawanya ke ruangan UKS. Sampai di ruangan UKS keadaan Candra bertambah parah, tubuhnya kejang, dan dia tidak sadarkan diri. Kami semua sangat cemas dengan kondisi Candra. Kamipun langsung membawa Candra ke rumah sakit yang terdekat dari sekolah. Dokter dan perawat di rumah sakit dengan cepat memberikan tindakan terhadap Candra.
     Tubuh kekar itu kini terbaring tidak berdaya, tergeletak lemah di atas ranjang rumah sakit dengan infus dan oksigen terpasang ditubuhnya. Nyaris saja nyawanya terenggut oleh kebodohan yang dia ciptakan sendiri. Aku tidak menyangka kalau Candra akan berbuat senekat itu. Sangat kusesali apa yang telah dilakukan Candra ini, ternyata di balik tubuhnya yang kekar ternyata jiwanya sangat rapuh dan labil. Hatinya mudah patah dan sekarang sedang terluka.
     Menurut dokter yang menangani Candra, Candra mengalami over dosis obat. Setelah ditanya, ternyata semalam Candra menengak enam butir bodrex dan 4 butir paramex. Untunglah dokter bertindak cepat dengan mencuci lambung Candra dan mengeluarka obat yang menumpuk di lambungnya dengan cara mendorongnya untuk muntah.
     Kulihat dokter bekerja dengan sangat cepat dan alhamdulillah Candrapun muntah dan bodrex serta paramex yang nyaris merenggut nyawanya tersebut ikut keluar.
     “Alhamdulillah....Terima kasih ya Allah...”Aku tiada henti mengucap syukur.
      Kami semua lega melihat Candra mulai siuman dan menatap satu persatu wajah yang mengelilinginya. Saat matanya menatapku, Candra spontan saja bertanya,”Cyntia mana Bu?” Aduh naaak, dalam kondisi tidak berdaya begini, tetap saja nama Cyntia yang ada dalam fikiranmu.
     “Candra, kamu lagi sakit, jangan fikirkan yang lain dulu. Fikirkan saja kondisimu, kamu harus berjuang agar cepat sembuh dan pulih seperti sedia kala, kasihan ayah dan ibumu, dari tadi tidak berhenti menangis melihat keadaanmu!” jelasku memberi pengertian pada Candra.
     “Tapi Bu....! Candra ingin ketemu sama Cyntia sekarang, bawa dia ke sini ya Bu...!”
     “Kamu harus sembuh dulu Candra...!” tegasku
      Candra terdiam dan tidak membantah lagi.
     Cyntia adalah pacarnya Candra eman bulan belakangan ini. Hubungan mereka baru saja berakhir sebelum pelaksanaan ujian tengah semester kemaren, karena Cyntia tidak diizinkan oleh orang tuanya untuk berpacaran sebelum menyelesaikan kuliah. Cyntia sudah membicarakan masalah ini baik-baik dengan Candra dan mengharapkan pengertian Candra. Tetapi Candra yang lagi dimabuk asmara tidak mau menerima keputusan tersebut. Dia merasa kalah dan merasa sangat kecewa.
     Efek dari masalah tersebut, Candra jadi tidak fokus belajar, sering cabut dan akibatnya nilai UTS nya hancur. Hampir di semua bidang studi nilainya di bawah KKM. Puncak kekalutan Candra kemaren malam, dia akhirnya nekat tanpa memikirkan efek dari perbuatannya itu. Karena cinta butanya bodrexpun ikut berperan. Candra menengak obat flu Bodrex dan paramex, masing-masing satu strip.
     Awalnya katanya hanya untuk menarik perhatian Cyntia saja, akan tetapi kasus Candra ini bukan saja menarik perhatian Cyntia saja, namun menarik perhatian semua siswa dan guru di sekolah bahkan beritanya merembes ke sekolah lainnya.
     Candra sudah dibutakan oleh cinta, tak bisa lagi berfikiran jernih dan mengambil jalan pintas dan mempertaruhkan nyawanya untuk cewek manis yang bernama Cyntia.
     Aku sangat prihatindan sedih melihat tubuh Candra yang terbaring lemah dan tatapan mata yang sayu. Dia menderita dan tersiksa oleh kebodohannya dalam mempertahankan cintanya. Begitu kuat cintanya tapi dia lupa bagaimana memaknai cinta itu sebenarnya. Cinta tak harus memiliki.
    Seperti perasaan yang aku miliki terhadap sosok cowok berkaca mata yang selalu mengisi ruang hatiku. Kucoba mengikhlaskan semuanya, bukan takdirku untuk bersamanya, aku terima kenyataan itu walau sulit untuk benar-benar bisa melupakannya seratus persen dari hatiku. Biarkanlah semua mengalir seperti air. Biar Allah yang mengatur semuanya, dan semua akan indah pada waktunya.

Merindukan Gang Iblis

By. Rien Sudah sangat lama kami meninggalkan tempat itu. Namun, seakan ada suara yang terus memanggil. Sebenarnya ada apa di gang iblis? Gan...